wCSUfbj0jCfxbkpQufYnAiiwrifpe8kDKSjPJHFZ

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 21 Maret 2012

FILSAFAT PENGETAHUAN ISLAM KLASIK (AL-KINDI, AL-FAROBI DAN IBNU SINA)




Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Ilmu
Yang dibina oleh Dr. Ahidul Asror; M.Ag.


Oleh:
IDRIS MAHMUDI, Amd.Kep; S.Pd.I.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
KONSENTRASI PEMIKIRAN ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA
STAIN JEMBER
Desember, 2011



A. Prolog.
Oliver Leaman menyatakan, salah jika filsafat islam hanya nukilan filsafat Yunani (Aristoteles saja).(Sholeh, 2004 : xv). Memang sains, filsafat dan peradaban islam bukan hanya terwarnai oleh Yunani, namun juga oleh Persia dan India. Namun, kondisi internal muslim saat itu juga memberikan andil dalam perkembangan filsafat pengetahuan di zaman klasik yang merupakan zaman keemasan islam. Pemikiran rasional-filosofis islam lahir bukan dari fihak luar melainkan dari kitab suci mereka sendiri, Al-Qur’an. (Sholeh, 2004 : xviii).
Hakikat manusia adalah hewan yang berfikir.( Sholeh, 2004 : 90), oleh karena itu berfikir merupakan aktivitas yang mulia bagi manusia, lebih-lebih Islam sangat menganjurkan proses berfikir. Sebuah hadis qudsi yang sangat terkenal ”Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u’rofa fakholaqtul kholqo likay u’rofa” (Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku suka untuk dikenali, maka Kuciptakan mahluk agar Aku dapat dikenali) menjadi pemicu pemikiran filsafat. (Sholeh, 2004 : 77). Hal inilah yang menjadi spirit awal perkembangan filsafat pengetahuan islam di zaman klasik. Berfikir rasional telah berkembang pada masa ini (dinasti Bani Abbasiyah) yaitu pada fikih (Yurisprudensi) dan kalam (teologi). Bahkan dalam teologi doktrin Mu’tazilah menjadi doktrin resmi negara. (Sholeh, 2004 : xvii). Pada zaman Abbasiyah ini (terutama masa Kholifah Al-Makmun) gerakan filsafat pengetahuan islam begitu berkembang dengan adanya proyek transliterasi, bahkan dikatakan tidak ada zaman yang melampaui dari itu dari segala hal. Proyek harmonisasi antara filsafat Yunani dengan Islam dimulai oleh Al-Kindi (keturunan Arab), dilanjutkan Al-Farobi (keturunan Turki), dan disempurnakan oleh Ibnu Sina (keturunan Suriah).(Hitti, 2010 : 464).
B. Pembahasan.
1. Al-Kindi (801-873 M).
''Al-Kindi adalah salah satu dari 12 pemikir terbesar di abad pertengahan,'' cetus sarjana Italia Geralomo Cardano (1501-1575 M). Asy'ats bin Qais, kakeknya Al-Kindi dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Nama Aslinya Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq berasal dari Kindah, kemudian terkenal dengan Al-Kindi adalah filosof muslim yang pertama. Ia digelari filosof bangsa Arab. (Hitti, 2010 : 463). Ia menganut aliran Mu’tazilah.(Nasution, 2008 : 6). Al-Kindi hidup di era kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya yakni, Al-Amin (809-813), Al-Ma'mun (813-833), Al-Mu'tasim, Al-Wasiq (842-847) dan Mutawakil (847-861). Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan.
Pemikiran filsafat Al-Kindi merupakan ekletisme dari Plato dan Aristoteles (Neo-Platonis) serta Neo-Pythagorean. Ia bukan hanya filosof, tapi ahli perbintangan, kimia, ahli mata dan musik, karyanya sebanyak 361 buah. (Hitti, 2010 : 463). Menurut Ibnu Nadim karya Al-Kindi berjumlah 241 dalam filsafat, logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optika, musik, matematika dan sebagainya. (Nasution, 2008 : 6). Karya-karya Al-Kindi diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Eropa. Buku-buku itu tetap digunakan selama beberapa abad di barat setelah ia meninggal dunia. Ketika Khalifah Al-Mutawakkil tak lagi menggunakan paham Muktazilah sebagai aliran pemikiran resmi kerajaan,(menggantinya dengan faham Asy-’Ariyah) Al-Kindi tersingkir. Ia dipecat dari berbagai jabatan yang sempat diembannya.
Dalam pemikirannya, pengetahuan dibagi dalam 2 bagian :
a. Pengetahuan Ilahi (Divine Science), yaitu pengetahuan langsung yang diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ini adalah keyakinan.
b. Pengetahuan manusiawi (Human Science) atau filsafat, dasarnya adalah pemikiran.
Filsafat adalah pengetahuan tentang yang benar (knowledge of truth) sehingga menurutnya hakikat tujuan filsafat sama dengan agama. Baginya menolak filsafat sama dengan menolak kebenaran, bahkan orang yang menolak filsafat dikatakan ”kafir”. Oleh karena itu Salah satu kontribusinya yang besar adalah menyelaraskan filsafat dan agama. Selain itu, pengetahuan juga dibagi 2, pengetahuan panca indera dan pengetahuan akal. Pengetahuan panca indera meliputi yang lahir saja, dan dalam fase ini pengetahuan manusia dengan binatang dianggap sama. Pengetahuan akal adalah proses perenungan atau berpikir lebih dalam lagi. (Nasution, 2008 : 9). Daya untuk berpikir disebut akal, yang meliputi :
a. Akal yang bersifat potensial.
b. Akal yang bersifat aktual.
c. Akal tingkat kedua setelah aktualitas.
2. Al-Farobi (870-950 M).
Nama Lengkap beliau Abu Nashr Muhammad bin Muhammad ibnu Tarkhan bin Auzalagh Al-Farobi, di barat dikenal Alpharabius. Lahir di Farob propinsi Transoxiana, Turkistan pada 257 H / 870 M. Al-Farobi digelari Al-Mu’allim tsani (guru ke-2 setelah Aristoteles). (Hitti, 2010 : 464). Konsep filsafat Al-Farobi dikenal dengan Marotib Al-Maujudat (hirarkis wujud) dalam mabadi’ yang dibagi 4 tingkatan wujud. Hierarki wujud menurut al-Farabi adalah sebagai  berikut :
  1. Tuhan yang merupakan sebab keberadaan segenap wujud lainnya.
  2. Para Malaikat yang merupakan wujud yang sama sekali immaterial.
  3. Benda-benda langit atau benda-benda angkasa (celestial).
  4. Benda-benda bumi (teresterial).
Ia juga ahli musik terbesar dalam sejarah Islam dan komponis beberapa irama musik, yang masih dapat didengarkan dalam perbendaharaan lagu sufi musik India. Orde Maulawiyah dari Anatolia masih terus memainkan komposisinya sampai sekarang.  Al-Farabi telah mengarang ilmu musik dalam lima bagian. Filsafat Al-Farobi meramu dari :
  1. Teori sebab pertama Aristoteles.
  2. Teori ide Plato.
  3. Teori cosmos Ptolomeus.
  4. Teori jiwa kognitif Stoa. (Sholeh, 2004 : 68).
Al-Farobi dikenal sebagai ahli logika yang masyhur  dan juru bicara Plato dan Aristoteles pada masanya. Al-Farabi merupakan filosof Islam pertama yang mengusahakan keharmonisan antara agama dan filsafat. Dasar yang dipakainya untuk itu dua. Pertama pengadaan keharmonisan antara filsafat Aristoteles dan Plato sehingga ia sesuai dengan dasar-dasar Islam dan kedua, pemberian tafsir rasional terhadap ajaran-ajaran Islam. Bahkan al-Farabi  berpendapat bahwa Plotinus dan Aristoteles termasuk dalam jumlah nabi-nabi yang tidak disebutkan namanya dalam al-Quran. Konsep Al-Faidl (emanasi) Al-Farobi dianggap Neo-Platonis, oleh karena itu Al-Ghozali (1058-1111 M) menggugat pemikiran Yunani yang diusung Al-Farobi dan Ibnu Sina lewat karyanya At-Tahafut Falasifah, bahwa tidak sesuai dengan ajaran islam dan bisa menyebabkan penganutnya menjadi kufur. At-Tahafut Falasifah diselesaikan oleh Al-Ghozali pada 11 Muharom 488 H / 21 Januari 1095 M dengan membahas 20 persoalan filsafat yang bid’ah, bahkan 3 diantaranya dinilai kufur bagi penganutnya. Kritik Al-Ghozali terhadap Al-Farobi diulangi lagi dalam karyanya Al-Munqidzu minadz dholal. (Sholeh, 2004 : xxi dan xxx). Dia seorang penganut islam Syi’ah yang menganut paham tertentu mengenai adanya imam (Syai’ah imamiyah istna asyariyah).(Syam, 2010 : 59). Kritik terhadap Al-Farobi juga muncul terhadap teori emanasinya yang hanya memancar dalam 11 tingkat. Teori emanasi yang hanya berjalan 11 tingkat, mungkin terdoktrin Syiah Imamiyah. (Sholeh, 2004 : 74).
Pasca karya Al-Ghozali (At-Tahafut Falasifah) gerakan anti filsafat begitu luas dan berpengaruh, sehingga Ibnu Rusydi membendung dengan mengcounter karya Al-Ghozali tersebut dengan buku karyanya At-Tahafut Tahafut (1126-1198). (Sholeh, 2004 : xxiii). Namun pengaruh Al-Ghozali terlanjur akut, lahirlah gerakan mistisisme yang menggusur tradisi ilmiah dalam sains, hingga peradaban islam, tradisi pengetahuan islam klasik mundur dan kemudian hancur. Kehancuran ini adalah salah satu faktor internal saja bagi umat islam di timur, selain faktor eksternal (serangan Mongol yang menghancurkan peradaban dan membakar buku-buku karya ilmuwan dan filosof muslim).
Daya berpikir menurut Al-Farobi terdiri dari 3 tingkat : akal potensial (material intellect), akal aktual (actual intellect), akal mustafad (acquired intellect).
Beberapa karya Al-Farobi.
Di bidang logika :
  1. Risalah Shudiro Bihal Kitab (risalah yang dengannya kitab berawal).
  2. Risalah Fi Jawab Masail Suila Anha (risalah tentang jawaban atas pertanyaan yang diajukan tentangnya).
Di bidang Fisika :
  1. Syarhu Kitab As-sama’ At- Thobi’i li Aristutalis (komentar atas fisika Aristoteles).
  2. Syarhu Kitab as-sama’ wal alam li Aristutalis (bahasan atas kitab Aristoteles tentang langit dan alam raya).
Di bidang Metafisika :
  1. Fushusul Hikam (permata kebijaksanaan).
  2. Kitab fil Wahid wal Wahdah (kitab tentang yang satu dan yang maha Esa).
Metafisika, menurut al-Farabi dapat dibagi menjadi tiga bagian utama : 1. Bagian yang berkenaan dengan eksistensi wujud-wujud, yaitu ontologi. 2. Bagian yang berkenaan dengan substansi-substansi material, sifat dan bilangannya, serta derajat keunggulannya, yang pada akhirnya memuncak dalam studi tentang “suatu wujud sempurna yang tidak lebih besar daripada yang dapat dibayangkan”, yang merupakan prinsip terakhir dari segala sesuatu yang lainnya mengambil sebagai sumber wujudnya, yaiu teologi. 3. Bagian yang berkenaan dengan prinsip-prinsip utama demonstrasi yang mendasari ilmu-ilmu khusus.
Di bidang Politik :
  1. kitab Aro’ Ahlul Madinah al-Fadilah (kitab tentang opini penghuni kota ideal).
  2. kitab As-Siyasat Al-madinah (kitab tentang pemerintahan negara kota).
  3. kitab Al-Millat al-Fadilah (kitab tentang komunitas utama).
  4. kitab Ihsho ul Ulum (kitab tentang pembagian ilmu. (Sholeh, 2004 : 61).
3.      Ibnu Sina. (980-1037 M).
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. usia 10 tahun telah mampu menghafal al-Qur’an, sebagian sastra Arab, dan ia juga hafal kitab metafisika karangan aristoteles, setelah membacanya 40 kali. Ketika berumur 17 tahun ia pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Ibnu Sina merupakan murid al Farabi (secara tidak langsung), jadi tidak mengherankan apabila banyak pemikiran yang memiliki kesamaan antara pemikiran Ibnu Sina dengan al Farabi. Di Barat dia dikenal dengan nama Avicena (Spanyol aven Sina), diberi gelar “the Prince of the Physicians”, sedang di timur diberi gelar Al-Syaikh- al-Rais.
Karya – karya Ibnu Sina yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al-Isyarat wat-Tanbihat. An-Najat adalah resum dari kitab As-Shifa. tentang tasawuf karyanya Al-Isyarat wat-Tanbihat. Selain dari itu, karyanya yang paling masyhur adalah Al-Qanun fith Thib (di barat terkenal dengan sebutan Canon of Medicine) yang  merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini. Ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Ibnu Sina sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama  masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya.
Menurut faham filsafat Ibnu Sina, daya akal pada manusia mempunyai tingkatan :
a.     Akal materiil yang semata - mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikitpun.
b.    Intelectual in habits, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal - hal abstrak.
c.     Akal actuil, yang telah dapat berfikir tentang hal - hal abstrak.
d.    Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal - hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya.
Terkait pemikiran al-Farabi dan Ibnu Sina, Al-Ghozali melancarkan kritik yang terbagi ke dalam 3 kategori :
a.     Filsafat – filsafatnya yang harus dipandang kufur.
b.     Filsafat – filsafatnya yang menurut Islam adalah bid’ah.
c.     Filsafat – filsafatnya yang sama sekali tak perlu disangkal.
Tiga masalah yang menyebabkan kufur tersebut adalah : Pertama, bahwa Allah hanya mengetahui hal – hal yang besar – besar dan tidak mengetahui hal – hal yang kecil - kecil(particular). Kedua,            bahwa alam ini azali atau kekal, tanpa permulaan (qodim). Ketiga,       bahwa di akhirat kelak yang dihimpun adalah ruh manusia bukan jasadnya. Ibnu Sina telah terlebih dahulu menimbulkan falsafat wujudiah atau existentialisasi dari filosof - filosof lain. Di usia 58 tahun (428 H / 1037 M) Ibnu Sina meninggal dan dikuburkan di Hamazan.
C. Epilog.
Memang terlalu singkat, sempit dan sederhana coretan ini untuk bisa meng-eksplorasi serta mendiskripsikan pemikiran-pemikiran filosof muslim diatas. Namun setidaknya tulisan ilmiah yang diajukan sebagai tugas makalah program pasca sarjana di STAIN Jember ini semoga bisa sedikit mengobati dahaga spiritual dan sains kita yang nantinya memberi spirit untuk merebut kembali ilmu islam yang telah hilang, merebut ilmu islam yang ternyata saat ini dicuri barat dari tokoh-tokoh muslim zaman dulu, zaman puncak kejayaan islam dinasti bani Abbasiyah.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Dar al-Ma’arif, 1957. Mesir.
Daudy, Ahmad. Segi-Segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Bulan Bintang, 1984. Jakarta.
DINIKA Vol. 3 No. 1, January 2004 : 83 – 100.
Hitti, Philip P. History of the Arabs, PT Serambi Ilmu Semesta, 2010. Jakarta.
Nasution, Harun. Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang, 2008. Jakarta.
Syam, Firdaus. Pemikiran Politik Barat, PT Bumi Aksara, 2010. Jakarta.
Sirajuddin, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, PT Raja Grafindo Persada, 2009. Jakarta.
Sholeh, A Khudori. Warna Baru Filsafat Islam, Pustaka Pelajar, 2004. Yogyakarta.



JIKA SOBAT KESULITAN UNTUK MENDAPATKAN FILENYA, SOBAT BISA MENDAPATKANNYA DI SINI............





Analisis Data Dalam Paradigma Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif



                                                                                                                                   

MAKALAH

Diajukan dalam diskusi kelas dalam mata kuliah Filsafat Ilmu
 Yang dibina oleh :
Dr. Ahidul Asror, M.Ag.



                                                                                                
Oleh :

IDA RAHMAWATI
NIM : 084 911 0150


PROGRAM PASCA SARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
DESEMBER 2011



I.       PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Berdasarkan aspek filosofi yang mendasarinya penelitian secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua dua macam, yaitu penelitian yang berlandaskan pada aliran atau paradigma filsafat positivisme dan aliran filsafat postpositivisme. Apabila penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan akhir menemukan kebenaran, maka ukuran maupun sifat kebenaran antara kedua paradigma filsafat tersebut berbeda satu dengan yang lain. Pada aliran atau paradigma positivisme ukuran kebenarannya adalah frekwensi tinggi atau sebagian besar dan bersifat probalistik. Kalau dalam sampel benar maka kebenaran tersebut mempunyai peluang berlaku juga untuk populasi yang lebih besar. Pada filsafat postpositivisme kebenaran didasarkan pada esensi (sesuai dengan hakekat obyek) dan kebenarannya bersifat holistik.
Kedua aliran filsafat tersebut mendasari bentuk penelitian yang berbeda satu dengan yang lain. Aliran positivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma kuantitatif. Sedangkan postpositivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma kualitatif. Karakteristik utama penelitian kualitatif dalam paradigma postpositivisme adalah pencarian makna di balik data (Noeng Muhadjir. 2000: 79). Penelitian kualitatif dalam aliran postpositivisme dibedakan menjadi dua yaitu penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi dan penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa. Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi bertujuan mencari esensi makna di balik fenomena, sedangkan dalam paradigma bahasa bertujuan mencari makna kata maupun makna kalimat serta makna tertentu yang terkandung dalam sebuah karya sastra.
Pada masa lalu, metode kualitatif dan metode kuantitatif juga sering digunakan sebagai penciri, penanda, dan pembeda antara antropologi dan sosiologi. Kesan tersebut muncul karena masing-masing disiplin ilmu tersebut terus menerus menggunakan metode secara konsisten. Antropologi sering menggunakan metode kualitatif, sedangkan sosiologi hampir selalu menggunakan metode kuantitatif. Asumsi ini didasarkan atas kenyataan bahwa antropologi ingin mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan mengklasifikasikan masyarakat yang masih tradisonal. Hal tersebut seolah-olah menempatkan antropologi dalam posisi memiliki satu pendekatan, yaitu interpretasi atau penafsiran. Sementara itu, sosiologi sudah terlanjur dikenal sering menggunakan metode kuantitatif dan melakukan penelitian terhadap masyarakat modern yang kompleks. Ada kesan bahwa penelitian sosiologis selalu menggunakan metode kuantitatif.
Penelitian kualitatif dan kuantitatif hendaknya tidak dilawankan, melainkan dikontraskan. Kontras ini diperlukan untuk melihat keunggulan dan kelemahannya masing-masing dalam memecahkan masalah dan atau dalam pengembangan teori. Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif masing-masing berkembang berdasarkan paradigma tertentu (yang berbeda) yang menjadi acuannya.
Jenis penelitian apa yang harus digunakan, selalu didasarkan pada masalah yang diteliti, bukan ditetapkan jenis penelitiannya dulu baru ditetapkan masalahnya. Hal ini disebabkan karena adanya kenyataan bahwa penelitian itu dilakukan karena ada masalah. Alasan pemilihan suatu metode, tentunya didasarkan pada kesesuaiannya dengan masalah penelitian, tujuan penelitian, serta prosedur penelitian yang cocok, hasil yang diharapkan, dan kondisi kelompok sasaran atau objek penelitiannya.




II.    PEMBAHASAN

A.    Definisi  Analisis Data, Paradigma, Kuantitatif dan Kualitatif
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata data secara sistematis untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Proses analisis data dalam penelitian kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya. Catatan dibedakan menjadi dua, yaitu yang deskriptif dan yang reflektif (Noeng Muhadjir.2000: 139). Catatan deskriptif lebih menyajikan kejadian daripada ringkasan. Catatan reflektif lebih mengetengahkan kerangka pikiran, ide dan perhatian dari eneliti. Lebih menampilkan komentar peneliti terhadap fenomena yang dihadapi.
Sedangkan paradigma adalah Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta kriteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian (Guba & Lincoln, 1988: 89-115). Secara umum, paradigma penelitian diklasifikasikan dalam 2 kelompok yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (Indiantoro & Supomo, 1999: 12-13). Masing-masing paradigma atau pendekatan ini mempunyai kelebihan dan juga kelemahan, sehingga untuk menentukan pendekatan atau paradigma yang akan digunakan dalam melakukan penelitian tergantung pada beberapa hal di antaranya (1) jika ingin melakukan suatu penelitian yang lebih rinci yang menekankan pada aspek detail yang kritis dan menggunakan cara studi kasus, maka pendekatan yang sebaiknya dipakai adalah paradigma kualitatif. Jika penelitian yang dilakukan untuk mendapat kesimpulan umum dan hasil penelitian didasarkan pada pengujian secara empiris, maka sebaiknya digunakan paradigma kuantitatif, dan (2) jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang penerapannya luas dengan obyek penelitian yang banyak, maka paradigma kuantitaif yang lebih tepat, dan jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang mendalam dan detail khusus untuk satu obyek penelitian saja, maka pendekatan naturalis lebih baik digunakan.
Paradigma kuantitatif, adalah penyelidikan menjadi masalah sosial atau manusia, berdasarkan pada pengujian teori yang terdiri dari variabel, yang diukur dengan angka, dan dianalisa dengan prosedur statistik, dalam rangka untuk menentukan apakah generalisasi prediktif dari teori terus benar. Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Penelitian yang menggunakan pendekatan Metodologi Penelitian Bisnis deduktif yang bertujuan untuk menguji hipotesis merupakan penelitian yang menggunakan paradigma kuantitatif. Paradigma ini disebut juga dengan paradigma tradisional (traditional), positivis (positivist), eksperimental (experimental), atau empiris (empiricist). Jenis penelitian yang termasuk dalam paradigma penelitian kuantitatif dibedakan berdasarkan tujuan penelitian dan karakteristik masalah.
Paradigma Kualitatif, Desain dari studi penelitian dimulai dengan pemilihan topik dan paradigma. Paradigma pada dasarnya adalah sebuah pandangan dunia, seluruh kerangka keyakinan, nilai dan metode di mana penelitian berlangsung. Ini adalah pandangan dunia di mana peneliti bekerja.
Definisi Penelitian Kualitatif, “Denzin dan Lincoln (1994) mendefinisikan penelitian kualitatif a dalah multi-metode dalam fokus, yang melibatkan pendekatan, interpretif naturalistik dengan materi subjek. Ini berarti bahwa peneliti kualitatif mempelajari hal-hal dalam pengaturan alam mereka, mencoba untuk memahami atau menafsirkan fenomena dalam hal makna orang membawa kepada mereka. Penelitian kualitatif melibatkan penggunaan dan pengumpulan mempelajari berbagai kasus bahan studi empiris, pengalaman pribadi, introspektif, wawancara cerita kehidupan, momen-momen rutin dan problematis pengamatan, sejarah, interaksional, dan visual teks-yang menggambarkan dan makna dalam kehidupan individu.
Cresswell (1994) mendefinisikan sebagai Penelitian kualitatif adalah proses penyelidikan pemahaman berdasarkan tradisi metodologis yang berbeda dari penyelidikan yang mengeksplorasi masalah manusia sosial atau hu. Peneliti membangun suatu gambaran yang kompleks, holistik, analisis kata, laporan pandangan rinci informan, dan melakukan penelitian di alam.
Karakteristik Penelitian Kualitatif
1.    Fokus eksplorasi dan deskriptif
2.    Muncul Desain
3.    Pengumpulan Data dalam pengaturan alam
4.    Penekanan pada 'manusia-sebagai-alat'
5.    Kualitatif metode pengumpulan data
6.    Awal dan On-akan analisis induktif
Cresswell (1994) membagi penelitian kualitatif menjadi lima Jenis Penelitian Kualitatif utama dan mengidentifikasi tantangan utama setiap modus penyelidikan.
  1. Biografi
  2. Fenomenologi
  3. Teori Beralas
  4. Etnografi
  5. Studi Kasus
Cara kunci menangkap data penelitian kualitatif ini adalah:
  • Observasi - baik peserta dan langsung
  • Dalam wawancara mendalam
  • Wawancara kelompok
  • Pengumpulan dokumen-dokumen relevan (Foto dan Video Tape)


B.     Konsep dan Ragam Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
Istilah penelitian kuantitatif mencakup setiap penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata dan perhitungan statistik lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas. Kemudian penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miler (1986: 9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya.
Menurut Cresswell (1994), Sebuah studi kuantitatif, konsisten dengan paradigma kuantitatif, adalah penyelidikan menjadi masalah sosial atau manusia, berdasarkan pada pengujian teori yang terdiri dari variabel, yang diukur dengan angka, dan dianalisa dengan prosedur statistik, dalam rangka untuk menentukan apakah generalisasi prediktif dari teori terus benar. Sebuah studi kualitatif didefinisikan sebagai proses penyelidikan pemahaman masalah sosial atau manusia, berdasarkan membangun sebuah gambaran yang kompleks, holistik, dibentuk dengan kata-kata, pelaporan rinci pandangan informan, dan dilakukan di alam.
Berdasarkan beragam istilah maupun makna kualitatif, dalam dunia penelitian istilah penelitian kualitatif setidak-tidaknya memiliki dua makna, yakni makna dari aspek filosofi penelitian dan makna dari aspek desain penelitian.
1.         Filosofi Penelitian
Dari aspek filosofi, penelitian kualitatif dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a.         Penelitian kualitatif dalam paradigma kuantitatif (positivisme), Penelitian kualitatif jenis pertama ini menggunakan paradigma positivisme. Kriteria kebenaran menggunakan ukuran frekwensi tinggi. Data yang terkumpul bersifat kuantitatif kemudian dibuat kategorisasi baik dalam bentuk tabel, diagram maupun grafik. Hasil kategorisasi tersebut kemudian dideskripsikan, ditafsirkan dari berbagai aspek, baik dari segi latar belakang, karakteristik dan sebagainya. Dengan kata lain data yang bersifat kuantitatif ditafsirkan dan dimaknai lebih lanjut secara kualitatif. Penelitian di jenjang pendidikan strata satu (S1) istilah penelitian kualitatif lebih banyak menunjuk pada pengertian jenis pertama ini. Beberapa peneliti menyebut dengan istilah penelitian deskriptif kualitatif.
b.        Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa (dan sastra) menggunakan paradigma post positisme. Penelitian kualitatif jenis kedua ini berusaha mencari makna, baik makna di balik kata, kalimat maupun karya sastra. Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa ini masih dapat dibendakan menjadi :
1.        Sosiolinguistik yang berupaya mempelajari teori linguistik atau studi kebahasaan atau studi perkembangan bahasa.
2.        Strukturalisme Linguistik yang berupaya mempelajari struktur dari suatu karya sasta. Pada awalnya strukturalisme linguist disebut struturalisme otonom atau struturalisme obyektif karena menganalisis karya sastra hanya dari struktur karya sastra itu sendiri, tidak dikaitkan dengan sesuatu di luar karya sastra. Strukturalisme linguist berkembang lebih lanjut menjadi strukturalisme genetik, strukturalisme dinamik dan strukturalisme semiotik.
3.        Strukturalisme Genetik. Analisis karya sastra (dan bahasa) dalam strukturalisme genetik lebih menekankan makna sinkronik dari pada makna lain, seperti makna ikonik, simbolik, ataupun indeksikal. Oleh karena itu menurut Prof. Noeng Muhadjir (2000: 304) analis struturalisme genetik perlu mencakup tiga unsur kajian, yaitu: a) intrinsik karya sastra itu sendiri, b) latar belakang pengarangnya, dan c) latar belakang sosial serta latar belakang sejarah masyarakatnya.
4.        Strukturalisme Dinamik. Strukturalisme dinamik mengakui kesadaran subyektif dari pengarang, mengakui peran sejarah serta lingkungan sosialnya, meski titik berat analisis harus tetap pada karya sastra itu sendiri. Analisis karya sastra menurut struturalisme dinamik mencakup dua hal, yaitu: a) karya sastra itu sendiri yang merupakan tampilan pikiran, pandangan dan konsep dunia dari pengarang itu sendiri dengan menggunakan bahasa sebagai tanda-tanda ikonik, simbolik, dan indeksikal dari beragam makna, dan b) analisis keterkaitan pengarang dengan realitas lingkungannya.
5.        Strukturalisme Semiotik. Strukturalisme semiotik adalah struturalisme yang dalam membuat analisis pemaknaan suatu karya sastra mengacu pada semiologi. Semiologi atau semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda dalam bahasa dan karya sastra. Strukturalisme semiotik mengenal dua cara pembacaan, yaitu heuristik dan hermeneutik. Pembacaan heuristik mencoba menelaah mencari makna dari kata-kata, dari bagian- bagian, seperti Said Mahmud (Noeng Muhadjir. 2001: 101) mencari amal shaleh menurut Al-Qur’an dengan cara mencari kata-kata kunci dalam Al-Qur’an, dan dia menemukan 13 kata kunci. Berdasarkan 13 kata kunci tersebut dia mendeskripsikan karakteristik amal shaleh menurut Al-Qur’an. Pembacaan hermeneutik mencoba menelaah makna dengan melihat keseluruhan karya sastra.

C.    Klasifikasi penelitian
1.        Klasifikasi Penelitian Kuantitatif
Berdasarkan tujuan, penelitian dapat dibedakan atas: (1) penelitian dasar dan (2) penelitian terapan. Prosedur yang digunakan yang digunakan oleh penelitian dasar dan penelitian terapan secara substansi tidak berbeda. Keduanya menggunakan metode ilmiah yang berguna membantu peneliti bisnis untuk mengetahui dan memahami fenomena bisnis. Esensi dari penelitian, apakah itu penelitian dasar atau terapan, terletak pada metode ilmiah. Secara teknis perbedaan kedua jenis penelitian tersebut terletak pada tingkat permasalahan (matter of degree) dari pada substansinya itu sendiri.
Beberapa Penelitian Dasar. Penelitian dasar yang sering disebut sebagai  basic research atau pure research dilakukan untuk memperluas batas-batas ilmu pengetahuan. Penelitian dasar ini tidak ditujukan secara langsung mendapatkan pemecahan bagi suatu permasalahan khusus. Penelitian dasar dilakukan untuk memverifikasi teori yang sudah ada atau mengetahui lebih jauh tentang sebuah konsep. Penelitian dasar dibedakan atas pendekatan yang digunakan dalam pengembangan teori yaitu:
1.         Penelitian deduktif, yaitu penelitian yang bertujuan menguji teori pada keadaan tertentu.
2.         Penelitian induktif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan (generating) teori atau hipotesis melalui pengungkapan fakta.
Penelitian terapan berbeda dengan penelitian dasar, penelitian terapan dilakukan untuk menjawab pertanyaan tentang permasalahan yang khusus atau untuk membuat keputusan tentang suatu tindakan atau kebijakan khusus. Penggunaan metode ilmiah dalam penelitian terapan menjamin objektivitas dalam mengumpulkan fakta dan menguji ide kreatif bagi alternatif strategi bisnis. Penelitian terapan dibedakan atas:
1.      Penelitian evaluasi, yaitu penelitian yang diharapkan dapat memberi12 masukan atau mendukung pengambilan keputusan tentang nilai relatif dari dua atau lebih alternatif tindakan.
2.      Penelitian dan pengembangan, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan produk sehingga produk tersebut mempunyai kualitas yang lebih baik.
3.      Penelitian tindakan, yaitu penelitian yang dilakukan untuk segera digunakan sebagai dasar tindakan pemecahan masalah.

2.    Klasifikasi Penelitian Kualitatif
Pendekatan penelitian kualitatif sering disebut dengan naturalistic inquiry (inkuiri alamiah). Apapun macam, cara atau corak analisis data kualitatif suatu penelitian, perbuatan awal yang senyatanya dilakukan adalah membaca fenomena. Setiap data kualitatif mempunyai karakteristiuknya sendiri. Data kualitatif berada secara tersirat di dalam sumber datanya. Sumber data kualitatif adalah catatan hasil observasi, transkrip interviu mendalam (depth interview), dan dokumen-dokumen terkait berupa tulisan ataupun gambar.
Karakteristik Penelitian Kualitatif :

1.    Setting/latar alamiah atau wajar dengan konteks utuh (holistik).
2.    Instrumen penelitian berupa manusia (human instrument).
3.    Metode pengumpulan data observasi sebagai metode utama.
4.    Analisis data secara induktif.
5.    Proses lebih berperanan penting daripada hasil.
6.    Penelitian dibatasi oleh fokus.
7.    Desain penelitian bersifat sementara.
8.    Laporan bernada studi kasus.
9.    Interpretasi ideografik.

D.    Metode Pengumpulan Data
1.      Pengamatan dengan berpartisipasi (Participant Observation)
2.      Wawancara Mendalam (Indepth Interview)
3.      Penyelidikan Investigation) Sejarah Hidup (Life Historical
4.      Analisis Konten (Content Analysis)
            Kontras
Metode Kualitatif
Metode Kuantitatif
Desain
- Umum
- Fleksibel
- Berkembang, tampil dalam proses penelitian
Desain
- Spesifik, jelas, terinci
- Ditentukan secara mantap sejak awal
- Menjadi pegangan langkah demi langkah 
Tujuan
- Memperoleh pemahaman makna : verstehen
- Mengembangkan teori
- Menggambarkan realitas yang komplek
Tujuan
- Menunjukkan hubungan antara variabel
- Mentest teori
- Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif
Teknik Penelitian
- Observasi, participant observation
- Wawancara terbuka
Teknik Penelitian
- Eksperimen, survey, observasi berstruktur
- Wawancara berstruktur
Instrumen Penelitian
- Human Instrument
- Buku Catatan
- Recording
Instrumen Penelitian
- Test, angket, wawancara, skala
- Komputer, Kalkulator

Data
- Deskriptif
- Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan responden, dokumen, dll

Data
- Kuantitatif
- Hasil pengukuran berdasarkan variabel yang dioperasionalkan dengan menggu-nakan instrumen
Sampel
Sampel
                                                                                                                          
E.     Perbedaan antara Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
1)      Kata-kata dan angka
2)      Perspektival (Subjektif) versus Tujuan views
3)      Penemuan dibandingkan bukti
4)      Penelitian kualitatif penekanan pada pemahaman melalui mencermati kata-kata orang, tindakan dan catatan. Pendekatan tradisional atau kuantitatif untuk penelitian terlihat masa ini, tindakan kata dan catatan untuk signifikansi matematika mereka. Pendekatan tradisional untuk penelitian (mengkuantifikasi) hasil pengamatan ini.
F.     Perbedaan Paradigma Kuantitatif dan Kualitatif
1.    Paradigma Kuantitatif
a.         Realita bersifat obyektif dan berdimensi tunggal. Menilai data lebih obyektif karena tidak boleh terpengaruh oleh nilai atau kepercayaan peneliti atau orang lain (value free).
b.         Peneliti independen terhadap fakta yang diteliti.
c.         Menggunakan struktur teori.
d.        Struktur teori digunakan untuk membangun satu atau lebih hipotesis.
2.    Paradigma Kualitatif
a.       Realita bersifat subyektif dan berdimensi banyak. Menilai data lebih subyektif karena hasil observasi langsung dilakukan peneliti, dan peneliti sendiri yang menyim-pulkannya.
b.       Peneliti berinteraksi terhadap fakta yang diteliti.
c.       Tidak menggunakan struktur teori karena lebih bertujuan menemukan teori bukan memverifikasi teori, kecuali jika tujuan penelitiannya ingin membuktikan atau menemukan keterbatasan dari suatu teori.
d.      Tidak ada hipotesis, jika ada hipotesis tersebut bersifat implisit tidak eksplisit.
Dalam penelitian kualitatif sebaliknya meneliti pola-pola makna yang muncul dari data dan ini sering disajikan dalam kata-kata sendiri peserta. Tugas peneliti kualitatif adalah untuk menemukan pola dalam kata-kata (dan tindakan) dan menyajikan pola-pola bagi orang lain untuk memeriksa sementara pada saat yang sama tetap sebagai dekat dengan dunia konstruksi sebagai peserta awalnya mengalaminya. Penelitian kualitatif adalah untuk menemukan pola-pola yang muncul setelah pengamatan dekat, dokumentasi yang cermat, dan analisis mendalam tentang topik penelitian. Apa yang dapat ditemukan oleh penelitian kualitatif tidak menyapu generalisasi tapi temuan kontekstual. Proses penemuan adalah dasar fondasi filosofis pendekatan kualitatif.



III. KESIMPULAN

1.      Analisis data merupakan upaya mencari dan menata data secara sistematis untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain.
2.      Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori.
3.      Paradigma kuantitatif adalah penyelidikan menjadi masalah sosial atau manusia, berdasarkan pada pengujian teori yang terdiri dari variabel, yang diukur dengan angka, dan dianalisa dengan prosedur statistik, dalam rangka untuk menentukan apakah generalisasi prediktif dari teori terus benar.
4.      Penelitian kualitatif adalah multi-metode dalam fokus, yang melibatkan pendekatan, interpretif naturalistik dengan materi subjek.
5.      Tujuan Penelitian kuantitatif :
·         Memperoleh pemahaman makna : verstehen
·         Mengembangkan teori
·         Menggambarkan realitas yang komplek
6.      Tujuan Penelitian kualitatif :
·         Menunjukkan hubungan antara variabel
·         Mentest teori
·         Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif




DAFTAR PUSTAKA


Brannen, Julia, Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, 1997. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Darmiyati. 1998. Penelitian Kualitatif. Makalah Penataran Pengenalan Berbagai Pendekatan dan Metode Penelitian Lemlit UNY.
Dwiyanto, Djoko. Metode Kualitatif : Penerapannya dalam Penelitian. www. inparametric. com   
Gunawan. 2007. Teknik Analisis Data Kualitatif. Makalah Lokakarya Analisis Data  Kualitatif Lemlit UNY.
Muhadjir, Noeng. 2002. Trend Perkembangan Penelitian Kualitatif. Makalah Sarasehan Penelitian Dosen FIP UNY.
Siti Partini. 1998. Penelitian Survei. Makalah Penataran Pengenalan Berbagai Pendekatan dan Metode Penelitian Lemlit UNY.
---------------   2002. Proposal Penelitian Kualitatif. Makalah Lokakarya Penyusuna Proposal Penelitian Lemlit UNY.
Sudarsono, FX. 2004. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Makalah Lokakarya Penyusunan Proposal Penelitian TP FIP UNY. 
Zamzani. 2007. Pokoknya Penelitian Kualitatif. Makalah Lokakarya Analisis Data Kualitatif Lemlit UNY.




JIKA SOBAT KESULITAN UNTUK MENDAPATKAN FILENYA, SOBAT BISA MENDAPATKANNYA DI SINI............




adf.ly

http://adf.ly/?id=1499578