wCSUfbj0jCfxbkpQufYnAiiwrifpe8kDKSjPJHFZ

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 26 Maret 2012

PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF


  1. I. Judul Penelitian
“ Hubungan  Pelayanan Guru Bimbingan Dan Konseling Dengan Kedisiplinan Belajar Siswa “
  1. 1. Latar Belakang
. Pendidikan mempunyai pengaruh yang dinamis dalam kehidupan manusia di masa depan. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal, yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosio budaya di mana dia hidup. Pendidikan merupakan fenomena manusia yang sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu, maka pendidikan dapat dilihat dan dijelaskan dari berbagai sudut pandang, seperti dari sudut pandang psikologi, sosiologi dan antropologi, ekonomi, politik, komunikasi dan sebagainya.
Pendidikan mempunyai banyak bentuk. Salah satu bentuk lembaga pendidikan yang formal adalah sekolah. Sekolah merupakan tempat  pendidikan formal yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang mana harus ditaati oleh seluruh komponen sekolah tersebut. Sekolah merupakan tempat dimana seseorang mendapatkan pendidikan, pengajaran serta ketrampilan hidup dalam berhubungan dengan orang lain. Menurut Prayitno (1999, 25) pengembangan manusia seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang pendiriannya matang, dengan kemampuan sosial yang menyejukan, kesusilaan yang tinggi, dan keimanan serta ketaqwaan yang dalam. Dimana pengembangan manusia seutuhnya tersebut bisa didapatkan dalam proses pendidikan seperti di sekolah. Namun, dalam proses pendidikan juga banyak dijumpai permasalahan yang dialami oleh anak-anak, remaja, dan pemuda yang menyangkut dimensi kemanusiaan mereka.  Lebih lanjut Prayitno mengemukakan bahwa permasalahan yang dialami oleh para siswa di sekolah sering kali tidak dapat dihindari meski dengan pengajaran yang baik sekalipun. Hal tersebut  juga disebabkan oleh karena sumber-sumber permasalahan siswa banyak yang disebabkan oleh hal-hal di luar sekolah.
Realita dalam observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMPN 1  Pakisaji menunjukkan bahwa beberapa siswa mengalami kendala dalam  belajarnya yang berasal dari dalam diri karena ketidakdisiplinan mereka dalam mengatur waktu belajarnya. Ketidakdisiplinan ini terlihat dari kegiatan belajar siswa yang dipadukan dengan aktifitas sehari-hari (bermain).Hal ini berakibat timbulnya permasalahan belajar bagi siswa.
Dalam hal ini permasalahan siswa tidak boleh dibiarkan begitu saja, termasuk perilaku siswa yang tidak dapat mengatur waktu untuk melakukan aktifitas belajar sesuai dengan  apa yang dibutuhkan, diatur, atau diharapkan. Jika pengaturan waktu berdasarkan kesadaran sendiri maupun arahan pihak lain tidak dilakukan dengan disiplin maka semuanya akan menjadi kacau. Demikian pula dengan kedisiplinan siswa dalam melakukan aktifitas belajar dipadukan aktifitas lain dalam kehidupan sehari-hari. Disinilah pelayanan  guru bimbingan dan konseling diperlukan untuk mendampingi mereka. Oleh karena itu, peran kita sebagai guru BK menghadapi siswa yang seperti itu adalah mengarahkan agar siswa mempunyai kelompok belajar sendiri di rumah, berkolaborasi dengan orang tua siswa yang bersangkutan untuk memantau dan memotivasi belajar anak agar mereka bisa disiplin dalam belajar. Pelayanan guru bimbingan dan konseling hendaknya berjalan secara efektif membantu siswa mencapai tujuan-tujuan perkembangannnya dan mengatasi permasalahannya termasuk membimbing para siswa untuk berperilaku disiplin. Pelayanan guru bimbingan dan konseling merupakan peran yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengatasi berbagai permasalahan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Permasalahan tersebut mencakup permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Manfaat bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh guru bimbingan konseling cukup penting bagi seorang siswa untuk mengatasi berbagai permasalahan termasuk dalam mengatasi permasalahan pribadi siswa.
Berpijak pada paparan di atas, maka diasumsikan bahwa apabila siswa dapat mengatur waktu belajarnya dengan baik dan pelayanan guru Bimbingan Konseling dapat berjalan secara efektif maka mereka akan dapat berdisiplin dalam belajar dan mendapatkan hasil belajar sesuai dengan yang mereka butuhkan dan yang mereka harapkan. Kenyataan asumsi tersebut dapat terjadi di setiap sekolah, seperti halnya di SMPN 1 Pakisaji, oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengkaji.
  1. 1. Identifikasi Masalah.
Berdasarkan permasalahan yang ada sebagaimana dikemukakan pada latar belakang, maka permasalahan yang akan diungkapkan melalui penelitian ini dapat diidentifikasikan  sebagai berikut :
  1. Perilaku siswa yang tidak dapat mengatur waktu belajar yang sesuai dengan  apa yang dibutuhkan, diatur, atau diharapkan
  2. Dengan adanya pengaturan waktu yang baik serta pelayanan guru Bimbingan dan konseling secara efektif, siswa akan dapat berdisiplin dalam belajar dan mendapatkan hasil belajar sesuai dengan yang mereka butuhkan dan yang mereka harapkan
  3. Hubungan antara pelayanan guru Bimbingan Konseling dengan kedisiplinan siswa dalam Belajar
  1. 2. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari kesalah pahaman, maka penulis memberikan batasan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode angket
  2. Peneliti membatasi masalah, pada kedisiplinan siswa dalam belajar dengan aktifitas lain yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari
  3. Pembahasan hanya sebatas kedisiplinan siswa dan pelayanan guru BK untuk siswa SMP.
  1. 3. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
  1. Adakah hubungan antara pelayanan guru bimbingan dan konseling dengan kedisiplinan belajar siswa?
  2. Sejauh mana hubungan  pelayanan guru bimbingan dan konseling dengan kedisiplinan belajar siswa terjadi?
  1. 4. Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan sebagai berikut :
  1. a. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pelayanan guru bimbingan dan konseling dengan kedisiplinan belajar siswa.
  2. b. Untuk mendeskripsikan kedisiplinan belajar siswa SMPN 1 Pakisaji
  3. c. Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara pelayanan guru bimbingan dan konseling dengan kedisiplinan belajar siswa itu terjadi.
    1. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian yang kami lakukan maka manfaat penelitian tersebut adalah, sebagai berikut:
a.       Memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka pengembangan ilmu pendidikan terutama dikaitkan dengan  hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan belajar anak.
b.      Hasil penelitian dapat digunakan sebagai sumbangan pemikiran dalam rangka penyempurnaan konsep maupun implementasi praktik pendidikan sebagai upaya yang strategis dalam pengembangan kualitas sumberdaya manusia.
  1. II. Landasan  Teori ( Kajian Pustaka )
  2. a. Diskripsi Teori
  3. Kedisiplinan Belajar Siswa di Sekolah
Masalah disiplin berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dan harus ditaati. Disiplin bukan hanya mempunyai arti taat atau patuh pada peraturan atau ketentuan yang datang dari orang lain, lembaga atau pemerintah, namun aturan-aturan tersebut juga datang dari diri sendiri yang merupakan kesadaran, kerelaan untuk melaksanakan rencana kegiatan yang telah direncanakan. Seorang yang disiplin berarti tingkah laku dan keputusannya dilakukan dengan sadar dan rela, sesuatu yang memungkinkan dapat menjadikan dirinya sebagai orang yang taat pada peraturan yang berlaku. Sukardi (2003: 102) menjelaskan disiplin diartikan sebagai suatu rentetan kegiatan atau latihan yang berencana yang dianggap perlu untuk mencapai tujuan.
Mulyono (1993: 1) menjelaskan bahwa dalam surat edaran yang berkaitan dengan gerakan disiplin nasional mengartikan disiplin adalah sikap hidup dan perilaku yang mencerminkan tanggung jawab terhadap kehidupan tanpa paksaan dari luar.
Disiplin belajar dalam penelitian ini yang dimaksudkan  adalah suatu rentetan kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan sikap hidup yang mencerminkan tanggung jawab terhadap kehidupan tanpa paksaan dari luar dalam rangka untuk mencapai tujuan. Jadi disiplin belajar merupakan suatu sikap mental yang mengandung kerelaan tanpa paksaan untuk melakukan rentetan kegiatan dalam rangka menunaikan tugas dan tanggung jawab sebagai siswa, sebagai individu yang belajar dalam rangka mencapai tujuan.
Konsep disiplin berkaitan dengan tata tertib, aturan, atau norma dalam kehidupan bersama (yang melibatkan orang banyak). Menurut Moeliono (1993: 208) disiplin artinya adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib, aturan, atau norma, dan lain sebagainya. Sedangkan pengertian siswa adalah pelajar atau anak (orang) yang melakukan aktifitas belajar ( Ibid: 849).  Dengan demikian disiplin siswa adalah ketaatan (kepatuhan) dari siswa kepada aturan, tata tertib atau norma di sekolah yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar.
Dari pengertian tersebut, kedisiplinan siswa dapat dilihat dari ketaatan (kepatuhan) siswa terhadap aturan (tata tertib) yang berkaitan dengan jam belajar di sekolah, yang meliputi jam masuk sekolah dan keluar sekolah, kepatuhan siswa dalam berpakaian, kepatuhan siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah, dan lain sebagainya. Sedangkan Bentuk-bentuk dari kedisiplinan belajar ini dapat dilihat dari kegiatan belajar di sekolah, belajar mengisi waktu luang, dan belajar melaksanakan tugas sekolah. Tekun dan dinamis mengikuti ke seluruh program belajar di sekolah, tertib catatan dan tertib mencatat, dan tidak suka membolos atau tidak masuk tanpa ijin atau meninggalkan sebagian jam pelajaran, memanfaatkan waktu luang untuk diskusi atau belajar di perpustakaan sekolah, dan melaksanakan tugas ekstrakurikuler, belajar sesuai program yang disusun, dan belajar sesuai waktu secara teratur.Semua aktifitas siswa yang dilihat kepatuhannya adalah berkaitan dengan aktifitas pendidikan di sekolah, yang juga dikaitkan dengan kehidupan di lingkungan luar sekolah.
  1. Pelayanan Guru Bimbingan dan Konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah telah diterima dan menjadi suatu pekerjaan yang tugas dan ruang lingkupnya cukup penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Lebih jauh, mengingat bahwa sumber permasalahan anak-anak, remaja, dan pemuda sebagian besar berada di luar sekolah, dan lagi pula bahwa permasalahan yang dialami manusia tidak hanya terdapat disekolah, maka pelayanan bimbingan dan konseling perlu menjangkau daerah-daerah yang lebih luas di luar sekolah.
Prayitno (1999, 30) menyatakan bahwa keberadaan pelayanan bimbingan dan penyuluhan berperan untuk :
  1. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan;
  2. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing.
Dalam Penjelasan PP Nomor 29 Tahun 1990 menyebutkan bahwa :
  1. Bimbingan dalam rangka menemukan siswa dimaksudkan untuk membantu siswa mengenal kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya.
  2. Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan dimaksudkan untuk membantu siswa menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, ekonomi, budaya, serta alam yang ada.
  3. Bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan mempersiapkan diri untuk langkah yang dipilihnya setelah tamat belajar pada sekolah menengah serta kariernya di masa depan.
Bimbingan dan konseling mempunyai tujuan umum untuk membantu individu untuk mencapai perkembangan secara optimal sesuai dengan bakat, kemampuan, minat, dan nilai-nilai serta terpecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli. Salah satu tujuan umum adanya pelayanan bimbingan dan koseling di sekolah adalah untuk membantu siswa agar dapat mandiri dengan ciri mampu memahami dan menerima diri sendiri dan lingkunganya, membuat keputusan dan rencana yang realistis, mengarahkan diri sendiri dengan keputusan dan rencananya itu serta pada akhirnya mewujudkan diri sendiri. Tujuan khusus bimbingan dan konseling langsung terkait pada arah perkembangan klin dan masalah-masalah yang dihadapi. Tujuan-tujuan khusus Bimbingan dan konseling merupakan penjabaran dari tujuan umum yang dikaitkan dengan permasalahan konseli baik yang menyangkut perkembangan maupun kehidupannya.
Sebagai guru BK kita mempunyai peran yang sangat penting dalam membimbing siswa  yang mempunyai permasalahan dalam belajar, seperti halnya kedisiplinan belajar. Dalam permasalahan kedisiplinan belajar sebagai seorang guru BK kita harus tanggap dengan adanya permasalahan tersebut dan bisa mengidentifikasi adanya masalah dan penyebab dari masalah tersebut dan apa yang akan dilakukan atau diberikan kepada siswa yang mempunyai masalah dengan kedisplinan dalam belajar.
  1. b. Kerangka Berfikir
Berdasarkan hasil studi pendahuluan sebagaimana yang diuraikan pada latar belakang masalah dan rumusan masalah tersebut, serta memperhatikan teori dan konsep yang mendukung, maka dapat diungkapkan kerangka berfikir penelitian yang menggambarkan hubungan antara variable bebas (pelayanan bimbingan dan konseling) dan variable tergantung (kedisiplinan belajar siswa) sebagai berikut:
Kedisiplinan belajar siswa (tidak bisa mengatur waktu dalam belajar)(Y)

Pelayanan guru Bimbingan dan Konseling (x)



  1. c. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka dapat dirumuskan  hipotesis penelitian ini sebagai berikut:
H0= tidak ada hubungan antara pelayanan bimbingan Konseling dengan kedisiplinan belajar siswa KLS 1 SMPN PAKISAJI
Ha= ada hubungan antara pelayanan bimbingan Konseling dengan kedisiplinan belajar siswa KLS 1 SMPN PAKISAJI
III . Metode Penelitian
1.Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian  ini adalah pendekatan penelitian yang bersifat kuantitatif, karena hasil data dari angket yang diperlukan untuk mengungkap masalah dalam bentuk skor angka data kuantitatif yang selanjutnya diolah dan diuji dengan teknik analisis statistika.
1.Tempat dan Waktu Penelitian
a.Tempat Penelitian
Pemilihan dan penetapan lokasi penelitian ini adalah di SMPN 1 Pakisaji. Adapun pemilihan lokasi tersebut dengan alasan sebagai berikut:
1) Adanya relevansi masalah yang akan diteliti di sekolah tersebut.
2) Lokasi relatif dekat dengan domosili peneliti, sehingga mudah dijangkau dan bisa lebih efisien (waktu dan biaya).
b. Waktu  Penelitian
Waktu  penelitian ini dilaksanakan kurang lebih selama 1 bulan mulai bulan desember 2011 sampai bulan januari 2012 di SMPN 1 Pakisaji.
c. Populasi Dan Sampel
a. Populasi
Margono (2000: 121) menjelaskan bahwa populasi adalah seluruh individu yang menjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang ditentukan. Warsito (1992: 49) menjelaskan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda, hewan, tumbuhan, gejala, nilai tes, perusahaan, atau peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian.
Berdasarkan kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa yang dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian.
Adapun populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII sebanyak 150 orang. Secara rinci populasi  dikemukan dalam tabel 1 berikut.
Tabel 1
Keadaan Populasi Penelitian Tahun  Pelajaran 2011/2012
Kelas
Siswa
Jumlah
VII
Putra
Putri

A
18
20
38
B
15
21
36
C
16
22
38
D
15
23
38
Jumlah
64
86
150
b. Sampel Penelitian
Arikunto (1998: 120) menjelaskan pengertian sampel penelitian ini adalah sebagian atau wakil dari keseluruhan  (jumlah) yang akan diteliti .
Warsito (1992: 51) menjelaskan sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian, artinya sebagian populasi yang mewakili seluruh populasi.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sampel yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah sebagian dari jumlah keseluruhan siswa yang dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian. Berpijak pada pendapat di atas, maka sampel penelitian ini diambil 20% dari populasi yang ada yaitu sebanyak 30  siswa, hal ini dilakukan karena jumlah populasi dianggap terlalu banyak, dan pemilihannya dilakukan secara acak. Adapun alasan menggunakan kelas VII karena akan dipersiapkan untuk menghadapi ujian semester.
Sampel Penelitian
Tabel 2
Kelas
Populasi
Sampel 20%
Jumlah
VII
Putra
Putri
Putra
Putri
Sampel
A
18
20
4
4
8
B
15
21
3
4
7
C
16
22
3
4
7
D
15
23
3
5
8
JUMLAH
64
86
13
17
30
C. Teknik Sampling
Dari hasil yang diketahui dari data tersebut maka, teknik yang digunakan dalam penentuan sampel siswa kelas VII adalah menggunakan Random Sampling. Hal ini karena penelitian dilakukan dengan memilih siswa secara acak.
D. Teknik Pengumpulan Data
Beberapa teknik dalam pengumpulan data penelitian ini dilakukan sebagai   berikut :
1) Teknik Angket. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah dengan teknik angket untuk data  variabel tentang pelayanan guru BK dengan kedisiplin belajar siswa.
Langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data melalui angket dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a)   Mempersiapkan kisi-kisi dan indikator angket
b)   Membuat pertanyaan sesuai dengan indikator angket yang telah ditentukan, dan selanjutnya dikonsultasikan pada Dosen Pembimbing
c)   Melakukan try out angket dan menganalisis hasil try out
d)   Menyebarkan angket pada siswa untuk penelitian
e)   Melakukan analisis hasil penelitian
2) Dokumentasi.
Teknik studi dokumen, terutama untuk keperluan data tentang keadaan siswa, guru dan berbagai dokumen sekolah yang relevan dengan keperluan pengumpulan data penelitian ini.
Langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data melalui teknik studi dokumentasi dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan keadaan siswa seperti data pribadi, dan data tentang kegiatan siswa.
3) Teknik Observasi.
Teknik ini dilakukan untuk mengamati berbagai keadaan siswa. Langkah dalam pengumpulan data melalui teknik observasi adalah mengamati menggunakan lembar observasi tentang semua aktivitas siswa selama pelaksanaan penelitian yaitu saat melakukan pembelajaran.
D.   Teknik Analisis Data
Penelitian ini untuk mengungkap tentang hubungan pelayanan guru Bimbingan Konseling dengan kedisiplinan belajar siswa kelas VII SMPN 1 Pakisaji tahun pelajaran 2011/2012. Adapun teknik analisis data  korelasi product moment dengan menggunakan program SPSS versi 15 (Santoso, 2006: 269). yaitu dengan Product Moment :
rXY         =
rXY         = Koefisien Korelasi X dan Y
= Produk dari X dan Y
= Kuadrat dari Variabel X
= Kuadrat dari Variabel Y
N             = Jumlah Responden
E. Kepustakaan
Slameto. 1995.  Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Mahmud, Dimyati. 1999.  Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Surini. 2010.Hubungan Motivasi Belajar Dengan Disiplin Belajar Siswa .Semarang : Proposal Skripsi
Margono. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta



JIKA SOBAT KESULITAN UNTUK MENDAPATKAN FILENYA, SOBAT BISA MENDAPATKANNYA DI SINI............




Pendidikan Islam Sebelum dan Sesudah Proklamasi


Pendidikan Islam Sebelum dan Sesudah Proklamasi Kemerdekaan. Islam adalah ajaran yang menyeluruh dan terperlu, ia mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik dalam urusan-urusan keduniaan maupun yang menyangkut hal-hal keakhiratan. Pendidikan hal yang tidak terpisahkan dari ajaran islam, ia merupakan bagian terpadu dari ajaran Islam[1]
Sejarah pendidikan islam telah menunjukkan kepada kita bahwa sejak perkembangan Islam, pendidikan mendapat prioritas utama masyarakat muslim Indonesia.  Di samping besarnya arti pendidikan, kepentingan Islamisasi mendorong umat Islam melaksanakan pengajaran Islam kendati masih dalam sistem yang sederhana, di mana pengajaran diberikan dengan sistem halaqah yang dilakukan di tempat ibadah semacam mesjid, mushallah bahkan juga di rumah ulama[2].  Di samping itu pendidikan mengalami perubahan dan perkembangan sehingga orang biasa mengatakan bahwa pendidikan sekarang merupakan perkembangan pendidikan masa lalu.
Perkembangan pendidikan memotivasi dan mendorong para cendekiawan muslim (ulama) untuk membentuk lembaga organisasi keagamaan demi menyelamatkan umat dari ketertindasan dan kebodohan serta mengantar umat islam ke arah yang lebih layak dengan tatanan  nilai-nilai hukum Islam.
Dari uraian yang dikemukakan di atas, untuk melihat lebih jauh berkenaan dengan situasi pendidikan Islam di masa penjajahan (sebelum proklamasi) dan sesudah proklamasi kemerdekaan atas peran organisasi keagamaan, lewat tulisan ini pemakalah mengangkat beberapa permasalahan :
  1. Bagaimana eksistensi pendidikan di masa penjajahan?
  2. Bagaimana peranan dan fungsi organisasi keagamaan dalam dunia pendidikan Islam di era penjajahan?
  3. Bagaimana pendidikan Islam sesudah proklamasi?
Pendidikan Islam Sebelum Kemerdekaan
Pemerintah Belanda mulai menjajah Indonesia pada tahun 1619 yaitu ketika Jan Pieter Coen menduduki Jakarta[3]. Kemudian Belanda satu demi satu memperluas jajahannya ke berbagai daerah dan diakui bahwa Belanda datang ke Indonesia bermotif ekonomi, politik dan agama.  Tahun 1882 M pemerintah Belanda membentuk suatu badan khusus untuk mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan Islam.  Selanjutnya pada tahun 1932 M keluar peraturan yang dapat memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau memberi pelajaran yang tidak disukai penjajah[4]. Tekanan yang diberikan pihak penjajah justru tidak dihiraukanterbukti dalam sejarah masyarakat muslim Indonesia pada saat itu organisasi Islam laksana air hujan yang sulit dibendung.
Selanjutnya pada masa penjajahan kedua yaitu penjajah Jepang, awalnya memberi prioritas umat Islam di Indonesia untuk mengembangkan pendidikan Islam utamanya syiar Islam, hal itu merupakan siasat yang dijalankan Jepang untuk kepentingan Perang Dunia II terbukti setelah Jepang mendapat tekanan dari sekutu justru Jepang memperlihatkan dirinya sebagai penjajah yang lebih kejam dari Belanda.  Rakyat dipaksa untuk bergabung dengan badan pertahanan Jepang sehingga pendidikan rakyat terbengkalai.  Meskipun di bawah penindasan Jepang, masih ada madrasah-madrasah yang bisa jalan dalam lingkungan pesantren di mana lingkungan tersebut jauh dari jangkauan Jepang.  Penjajahan yang dialami bangsa Indonesia membuat bangsa Indonesia menderita tetapi dengan semangat patriotisme dan nasionalisme dari pejuang dan ulama yang berjuang membentuk organisasi untuk menyelamatkan nilai-nilai Islam dalam menghadapi penjajah dan menyelamatkan umat dari penindasan dan kebodohan.
Peranan Organisasi Keagamaan dalam Pendidikan Islam
Munculnya organisasi Islam pertama kali di Indonesia adalah sebagai upaya untuk melaksanakan ajaran Islam dan mencerdaskan bangsa.  Salah satu program yang dijalankan oleh setiap organisasi Islam yaitu pada bidang pendidikan.  Beberapa organisasi Islam di masa penjajahan yaitu :
@ Jamiatul Khair
Al-Jamiatul Khairiyah yang lebih dikenal dengan Jamiatul Khair didirikan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 1905 yang beranggotakan mayoritas kalangan Arab. Program utamanya adalah pendirian dan pembinaan sekolah tingkat dasar serta pengiriman anak-anak muda ke Turki untuk melanjutkan pendidikan namun program ini memiliki hambatan karena kekurangan dan kemunduran kekhalifahan[5].
Tampilnya Jamiatul Khair sebagai organisasi kegamaan berorintasi pada pembaharuan pendidikan Islam terasa sangat penting karena organisasi ini merupakan organisasi modern dalam masyarakat Islam.  Kemoderenan organisasi ini terlihat dalam anggaran dasar mata pelajaran yang diajarkan bersifat umum, keseluruhan kegiatannya didasarkan pada sistem Barat.
@ Al Irsyad
Al-Irsyad adalah pecahan dari Jamiatul Khair. Al Irsyad mempunyai tujuan utama yaitu pertama merubah tradisi dan kebiasaan orang-orang Arab tentang kitab suci, bahasa Arab, bahasa Belanda dan bahasa lainnya. Kedua membangun dan memelihara gedung-gedung pertemuan sekolah dan unit percetakan.
Salah satu perubahan yang dilakukan Al Irsyad adalah pembaharuan di bidang pendidikan.  Pada tahun 1913 didirikan sebuah perguruan modern di Jakarta dengan sistem kelas materi pelajaran yang diberikan adalah pelajaran umum di samping pelajaran agama.  Sekolah Al-Irsyad mempunyai cabang dan semuanya berada di tingkat dasar.
@ Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 10 November 1912 bertepatan dengan 8 Zulhijjah 1330 H oleh K.H. Ahmad Dahlan.  Muhammadiyah merupakan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan kemasyarakatan.  Tujuan didirikannya Muhammadiyah adalah untuk membebaskan umat Islam dari kebekuan dalam segala bidang kehidupan dan praktek agama yang menyimpang dari kemurnian ajaran Islam.
Sebagai organisasi dakwah dan pendidikan, Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat dasar samapai perguruan tinggi.  Muhammadiyah memulai pendirian sekolah dasar pada tahun 1915 di mana pada sekolah tersebut diajarkan pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Pada tahun 1929, Muhammadiyah telah menerbitkan 700.000 buah buku dan brosur.  Pada tahun 1938 telah memiliki 31 perpustakaan umum dan 1774 sekolah[6]
Muhammadiyah saat ini sebagai organisasi keagamaan yang bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan mengalami kemajuan pesat hampir di setiap daerah berdiri lembaga pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi.  Di samping itu, Muhammadiyah mendirikan masjid dan rumah sakit untuk masyarakat.
 @ Persatuan Islam (PERSIS)
Persatuan Islam (PERSIS) didirikan secara resmi pada tanggal 12 September 1923 di BAndung oleh sekelompok orang Islam yang berminat dalam studi dan aktivitas keagamaan yang dipimpin oleh Zamzam dan Muhammad Yunus.  Berbeda dengan organisasi lain yang berdiri pada awal abad ke-20, PERSIS mempunyai ciri khas tersendiri di mana organisasi ini di samping pendidikan juga dititikberatkan pada pembentukan faham keislaman.
Perhatian PERSIS terutama dalam menyebarkan cita-cita dan pikirannya, ini dilakukan dengan mengadakan pertemuan-pertemuan bersama tokoh-tokoh PERSIS, melakukan khotbah-khotbah, membentuk kelompok studi, mendirikan sekolah-sekolah, menerbitkan dan menyebarkan majalah dan kitab[7].
@ Nahdatul Ulama (NU)
Nahadatul Ulama (NU) didirikan di Surabaya pada tanggal 13 Januari 1926 yang dipelopori oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah, sebagai perluasan dari komite hijaz yang dibangun untuk dua maksud yaitu pertama untuk mengimbangi komite khilafah yang secara berangsur-angsur  jatuh ke tangan golongan pembaharu. Kedua, untuk berseru kepada Ibnu Sa’ad penguasa baru di tanah Arab agar kebiasaan beragama secara tradisi dapat diteruskan.
Pada awalnya, organisasi ini tidak mempunyai rencana yang jelas kecuali yang bersangkutan dengan masalah pergantian kekuasaan di Hijaz. Tahun 1927 baru tujuan organisasi dirumuskan, di mana organisasi ini memperkuat dan memformulasikan salah satu Madzhab (empat madzhab) untuk melakukan kegiatan yang umumnya berdasarkan ajaran Islam. Kegiatan ini meliputi usaha untuk memperkuat persatuan di kalangan ulama yang berpegang teguh pada Madzhab, pengawasan terhadap pemakaian kitab-kitab di pesantren serta penyebaran agama Islam.
Nahdatul Ulama memberikan perhatian yang besar kepada pendidikan, khususnya pendidikan tradisional yang harus dipertahankan keberadaannya.  Pada awal berdirinya, NU tidak membicarakan secara tegas tentang pembaharuan pendidikan namun demikian NU juga pada dasarnya dalam pembaharuan pendidikan.
Dari uraian yang telah dikemukakan tentang persoalan pendidikan Islam, atas peran dan fungsi organisasi beragama yang lahir untuk membimikan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat muslim pada khususnya.  Hal ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Kondisi Pendidikan Islam pada masa penjajahan cukup banyak mendapat tekanan dari pihak penjajah namun dengan semangat jiwa patriotisme dan semangat jihad di jalan Allah yang dimiliki oleh para pejuang Islam mampu melawan penjajah dengan berbagai cara termasuk penyelenggaraan pendidikan Islam sesuai dengan organisasi keagamaan yang telah dibentuk masing-masing tokoh pendidikan tersebut.
  2. Latar belakang munculnya pendidikan Islam di Indonesia akibat adanya desakan penjajah untuk membatasi gerakan keagamaan dalam bidang pendidikan, di samping itu juga munculnya gerakan pembaharuan pemikiran keagamaan dari tokoh Islam.
  3. Pendidikan Islam sesudah merdeka mendapat perhatian dari Pemerintah terbukti dari segi kualitas dan kuantitas pendidikan, dalam sarana penunjang keberhasilan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Asrohah Hanun, 1992. Sejarah Pendidikan Islam Cet : 1;  Logos Wacana Ilmu, Jakarta.
Azra, Azyumardi,1999. Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam Cet. 1.,  Logos Wacana Ilmu, Jakarta.
DEPAG RI., 1993., Ensiklopedia Islam. Depag, Jakarta.
Maksum, 1999., Madrasah Sejarah dan Perkembangannya Cet I : Logos Wacana Ilmu, Jakarta.
Mughi, Syafiq A dan Hasan Bandung., 1994.  Pemikiran Islam Radikal Cet II., Bina Ilmu, Surabaya.
Noer, Delian., 1991., Gerakan Modern Islam di Indonesia., LP3ES., jakarta.
Shaleh, Abdulrahman., 1984., Penyelenggaraan Madrasah, Peraturan Perundangan. Dharma Bakti, Jakarta.
Stembrink, Karel A., 1986., Pesantren, Madrasah, Sekolah Pendidikan  Islam dalam Dunia Modern., LP3ES, Jakarta.
Zuhairini et.al., 1997. Sejarah Pendidikan Islam Cet I ., Bumi Aksara., Jakarta
Judul Asli : Pendidikan Islam Sebelum dan Sesudah Proklamasi Kemerdekaan (Peran dan Fungsi Organisasi Keagamaan)
Oleh : Hadirah J.


[1]  Azyumardi Azra, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam (Cet. 1: Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999), h.8
[2]  Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam (Cet : 1; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1992), h.143
[3] Zuhairini, ibid, h. 148. Bandingkan dengan Hanun Asrohah, op cit, h.150.
[4] Ibid., h.148-150
[5]  Harun Asrohah, Op Cit., h.160
[6] Delian Noer op cit., h.95
[7] Hanun Asrohah, Op cit., h.167





JIKA SOBAT KESULITAN UNTUK MENDAPATKAN FILENYA, SOBAT BISA MENDAPATKANNYA DI SINI............



 

Minggu, 25 Maret 2012

Sebuah Perspektif Sejarah untuk Pendidikan Klasik


Pendidikan, seperti yang telah kita ketahui bersama, telah menjadi sebuah kenyataan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Manusia adalah species yang mengalami prolonged-childhood, berbeda dengan species lainnya. Prolonged-childhood ini adalah cara yang dipakai manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sebagai species dan sejarah membuktikan (paling tidak sampai saat ini) bahwa manusia adalah species yang paling sukses. Selama masa prolonged-childhood ini, anak-anak dibebaskan dari kewajiban mempertahankan hidupnya, dan menjadi tanggungan manusia dewasa, yaitu orang tuanya. Keuntungan ini, berupa energi dan waktu luang sang anak, didedikasikan untuk belajar, sebagai sebuah proses mempelajari budaya manusia yang nantinya akan dipakai sebagai sebuah alat penjamin kelangsungan hidupnya dan kelompoknya. Budayalah, bukan gen, yang telah membuat manusia begitu adaptif terhadap segala perubahan alam. Untuk itulah pendidikan menjadi sebuah keharusan demi eksistensi manusia di muka bumi ini.
Pendidikan kita saat ini, pendidikan modern, adalah sebuah alat yang dipakai untuk belajar bagaimana mempertahankan hidup di jaman ini. Semua pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan jaman ini. Anak-anak sekarang sejak dini telah diperkenalkan dengan komputer, karena komputer telah menjadi sebuah identitas baru di era ini. Kita juga belajar hukum untuk mematuhinya (dan juga berkelit darinya). Kita belajar ekonomi untuk mengerti bagaimana uang berputar di jaman ini. Kita juga sering mendengar jargon seperti link-and-match yang menginginkan lulusan perguruan tinggi untuk bisa langsung diserap oleh industri. Sungguh, pendidikan sekarang adalah anak emas dari jaman ini. Sebagai anak yang baik pendidikan harus menyiapkan sekrup, mur dan oli supaya mesin dunia ini dapat berjalan dengan lancar. Pendidikan mengajar anak-anak didik how to fit into this world. Anak-anak dibekali dengan segala keahlian yang akan dibutuhkan mereka di dunia kerja: akuntansi, teknik, ilmu medis, hukum, dan lain-lain. Pendidikan untuk menjawab kebutuhan jaman menjadi skill-oriented.
Adakah yang salah dengan ini? Ya! Pendidikan telah mengkhianati tujuan asalnya, yaitu mempersiapkan manusia untuk menghadapi tantangan perubahan di masa depan. Pendidikan bukan lagi menjadi penerang jalan bagi peradaban tetapi telah menjadi hamba untuk mempertahankan suatu jaman, suatu sistem status quo. Apakah yang bisa diharapkan dari pendidikan semacam ini? Kita semua hanya akan masuk ke jurang seperti sebuah juggernaut yang lepas kendali, meminjam istilah Giddens, tanpa ada yang mengingatkan. Pendidikan, sebagai hamba jaman ini, jaman kapitalis, telah diperbudak oleh pemilik jaman ini, yaitu pemilik kekuasaan alias pemilik modal. Pendidikan tidak menyiapkan kita bagaimana menjadi manusia, melainkan menjadi alat, menjadi sekedar sebuah “sumber daya manusia”.
Anda mungkin protes bahwa pendidikan saat ini jauh lebih maju dari pada jaman dulu. Di jaman dulu orang tidak bisa membuat mobil, pesawat dan ‘handphone’. Sekarang kemajuan teknologi telah mempermudah seluruh sendi kehidupan kita, berkat pendidikan. Nanti dulu. Kalau Anda berkata bahwa pendidikan saat ini lebih baik, tentunya manusia di jaman ini lebih mampu berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis tentunya membuat mereka mampu untuk berpikir sendiri bebas dari pengaruh luar. Lalu untuk apa budget iklan yang mungkin trilyunan dollar setiap tahun dihamburkan untuk membujuk orang yang mestinya mampu “berpikir kritis”. Anda mungkin juga berargumentasi bahwa kita sekarang tahu lebih banyak dibandingkan dengan jaman dahulu. Ingat, mengetahui lebih banyak tidak berarti mengetahui dengan lebih baik. Bisa mengoperasikan handphone dengan fitur MMS, voice mail, GPRS atau entah apa lagi namanya tidak membuat Anda seorang manusia yang lebih baik, apalagi lebih bijak.
Selain itu seiring tuntutan jaman, pendidikan saat ini bukan hanya tidak mempersiapkan anak menjadi manusia utuh, melainkan juga telah merenggut anak dari kesukacitaan belajar. Berapa banyak anak yang tidak sabar untuk berangkat ke sekolah karena semata-mata menyenanginya. Tak aneh kalau banyak anak yang bunuh diri seperti halnya di Jepang dan Singapura karena tekanan dari kurikulum dan orang tua yang begitu intens. Tuntutan ini tak lain ialah tuntutan jaman yang makin kompetitif dan ketidakmampuan bertahan berarti tersingkir.
Marilah terlebih dahulu kita melihat bagaimana pendidikan di jaman Yunani kuno. Pendidikan pada jaman itu bukanlah seperti pendidikan saat ini. Anak-anak muda belajar di jalanan. Simonides dalam salah satu syairnya berkata, “Kota mengajar manusia”. Mereka belajar geografi dengan mendengarkan obrolan pedagang yang baru kembali dari tanah seberang. Mereka juga belajar berbagai keahlian, seperti pandai besi dan pertukangan kayu, dengan memperhatikan, karena di jaman itu orang mengerjakan segala sesuatu di depan rumahnya masing-masing. Mereka belajar politik dengan mendengarkan perdebatan orang di agora (pasar), mengenai harga barang, pajak dan lain-lain, dan orang Yunani memang senang berdebat. Nampaknya mereka belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dibandingkan kita. Selanjutnya di Yunani muncullah kaum Sofis yang memperkenalkan metode baru dalam pendidikan, yaitu orasi dan retorika. Mereka memanfaatkan kefasihan lidah mereka beragumentasi untuk menjelaskan suatu isu. Sayangnya mereka bukanlah pelayan kebenaran, melainkan pelayan diri sendiri, yang memanfaatkan kelebihan mereka untuk mencari uang dan kedudukan. Hingga suatu saat di antara mereka muncullah Sokrates di Athena, seorang yang pandai berdebat namun juga tertarik pada yang benar. Ia mampu mengalahkan para Sofis dalam perdebatan umum di pasar. Sokrates, yang mendapatkan julukan orang paling bijak di Yunani, mengubah metode pendidikan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas kepada pemuda-pemuda yang mengikutinya, untuk memaksa mereka berpikir. Dan salah satu pengikutnya, Plato, akhirnya mendirikan sebuah sekolah, yang sebenarnya tidak lebih dari tempat kumpul-kumpul di sebuah taman bernama Akademos, sehingga sekolahnya diberi nama Akademia. Di sana mereka berargumen mengenai perihal alam, negara dan apa saja yang terpikirkan oleh mereka, meneruskan tradisi yang telah dibangun oleh Sokrates. Salah satu murid Plato, Aristoteles, juga mendirikan sekolah dengan semangat yang kurang lebih sama meskipun dengan filsafat yang berbeda, bernama Lyceum. Kedua sekolah inilah yang menjadi landasan sebagian besar pemikiran di dunia hingga saat ini.
Jaman Roma, setelah Yunani ditaklukkan, mulai ditandai dengan merosotnya idealisme pendidikan. Pendidikan gaya Graeco-Roman menjadi lebih pragmatis, yang hanya ditujukan untuk melahirkan bukan lagi pemikir-pemikir, melainkan hanya untuk menjadi pelayan penguasa, sesuatu yang sangat dikutuk oleh Plato. Memang patut diakui bahwa ilmu teknik berkembang dengan pesat di masa itu, ditandai dengan pembangunan di mana-mana. Namun di lain pihak jumlah pemikir makin berkurang, hanya tersisa pada individu-individu tercerahkan seperti Marcus Aurelius dan Cicero. Akhirnya Roma pun keropos dengan sendirinya, dan sebuah penaklukan dari bangsa lain hanya tinggal menunggu waktu saja.
Selanjutnya seperti kita ketahui, semenjak Roma jatuh ke bangsa barbar, Eropa mengalami masa suram. Pendidikan menjadi hak elit gereja, yang menjadi penjaga peradaban. Pendidikan pun mengalami masa dorman berabad-abad lamanya. Teks-teks Platonik dan Aristotelean dilarang karena dianggap tulisan kafir. Pendidikan hanya diarahkan pada teologi, dengan inti studi kitab suci. Sementara itu secara diam-diam dan sistematis, kekayaan intelektual Yunani kuno, khususnya sekolah Aristoteles, berpindah ke Arab dan akhirnya berkembang luar biasa di sana. Dunia Arab boleh dikatakan menjadi pionir dalam kemajuan filsafat dan ilmu pengetahuan di masa itu.
Pendidikan akhirnya kembali berkembang di Eropa, khususnya di Italia, setelah gerakan Renaissance. Renaissance sendiri adalah salah satu akibat yang dibawa oleh Perang Salib, yang memungkinkan berpindahnya kembali kekayaan intelektual kuno ke tanah Eropa. Universitas pertama pun berdiri sekitar tahun 1158 di Bologna, yang berpusat pada studi hukum. Setelah itu menyusul di Paris dengan studi seni dan teologi. Eropa pun kembali berkembang. Ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami kemajuan yang luar biasa, sementara dunia Arab kembali suram. Kembalinya tongkat estafet ilmu pengetahuan dari Arab, perlahan namun pasti melahirkan sebuah generasi baru. Seorang bernama Copernicus, yang menumbangkan teori geosentris, memulai sebuah revolusi di Eropa. Nama-nama besar berikut yang terinspirasi olehnya membuat gebrakan yang tak pernah dibayangkan oleh masa sebelumnya. Dan Eropa (plus Amerika) sampai saat ini pun menjadi kiblat ilmu pengetahuan.
Sebuah perkembangan lain terjadi di Prusia (cikal bakal Jerman), yang akan kita rasakan sampai saat ini. Dalam kurun 1713-1786 beberapa legislasi dikeluarkan yang mewajibkan anak-anak untuk sekolah, nasionalisasi sekolah, melarang pendidikan privat (di rumah), sertifikasi pengajar, konsep jam pelajaran (±45 menit-1 jam), mata pelajaran, uang sekolah, subsidi pendidikan, dan ujian. Pendidikan kembali lagi, seperti halnya jaman Romawi Kuno, menjadi hamba pemerintah. Pendidikan ditujukan untuk menghasilkan kaum profesional, untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga profesional di semua sektor. Jerman pun berkembang menjadi sebuah bangsa yang terkenal profesionalisme sampai saat ini. Ilmu pengetahuan direduksi menjadi sebuah mata pelajaran, mengesampingkan pendekatan holistik yang menjadi ciri pendidikan klasik. Ciri-ciri sekolah model Prusia inilah yang menjadi ciri pendidikan modern hingga saat ini, yang mengusung profesionalisme, spesialisasi dan pragmatisme. Model pendidikan ini bukannya berjalan tanpa kritik. Ralph Waldo Emerson, seorang pujangga dan penulis esai dari Amerika, mengkritik kebijakan pemerintahnya yang mengirim sekitar 9000 orang untuk belajar di Jerman, yang ditujukan untuk menghasilkan tenaga-tenaga ahli yang akan menjadi penggerak pembangunan di Amerika. Ia berkata bahwa “seorang manusia haruslah menjadi manusia yang baik terlebih dahulu sebelum ia menjadi petani, tukang dan insinyur yang baik.”
Anda boleh mengatakan bahwa saya adalah seorang reaksioner atau laudator temporis acti (pemuja masa lampau). Namun saya mohon renungkanlah lebih jauh kenyataan-kenyataan saat ini dan katakanlah dengan jujur apakah benar peradaban ini menuju ke arah yang lebih baik. Kemajuan di sana sini memang membuat kehidupan kita lebih mudah. Tapi di lain pihak kita juga semakin jauh dari hakikat kita sebagai seorang manusia yang utuh. Kehidupan menjadi semakin artifisial. Dan semuanya ini hanyalah akan membawa kita ke kehancuran. Pemanasan global, polusi alam, kepunahan species-species, dan penjajahan ekonomi hanyalah sedikit contoh dari seluruh masalah di muka bumi ini. Bumi kita ini sedang sekarat. Kiranya bukan mustahil bahwa kiamat nantinya disebabkan sendiri oleh umat manusia.
Cikal bakal pendidikan klasik sebenarnya telah dibangun bahkan sebelum Sokrates berkeliaran di pasar Athena dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas yang memaksa orang untuk berpikir. Zeno dari Elea (abad ke-5 SM) telah mulai mengganggu orang dengan paradoks-paradoksnya, untuk memulai sebuah dialektika. Namun pendidikan klasik dengan trivium dan quadrivium baru dibakukan pada abad pertengahan. Istilah liberal arts sendiri pertama kali dipakai oleh Cassiodorus, seorang pejabat Roma pada abad ke-6. Ia memakai istilah ini untuk menggambarkan ketujuh cabang liberal arts yaitu trivium: gramatika, dialektika dan retorika, dan quadrivium: aritmatika, geometri, musik dan astronomi.
Bagian pertama adalah trivium. Trivium sendiri berasal dari kata tri (Latin: tiga) dan via (Latin: jalan), sehingga dapat diartikan “tiga jalan”. Tiga jalan (ungkapan yang lebih tepat adalah tiga tahap) yang dimaksudkan di sini ialah tiga jalan menuju pengetahuan. Jalan-jalan ini bukanlah pengetahuan, melainkan cara meraih pengetahuan. Tahap-tahap ini menggambarkan tahap-tahap perkembangan manusia, dari bayi sampai dewasa, dalam meraih pengetahuan. Perlu diingat bahwa trivium bukanlah mata pelajaran melainkan metodologi pembelajaran yang menjadi jiwa dari pelajaran yang diberikan. Bisa dilihat di bagian berikutnya bahwa mata pelajaran yang diberikan sesungguhnya tidak berbeda jauh dengan yang kita kenal. Perbedaannya terletak pada cara pembelajarannya.
Tahap yang pertama adalah gramatika, atau pengetahuan kongkrit. Pada masa ini manusia belajar dengan menghapal. Anak-anak berada pada tahap ini, sehingga kita dapat melihat mereka yang dengan mudah menghapalkan segala macam hal-hal baru yang diberikan pada mereka. Kita dapat melihat bahwa bayi dapat dengan mudah belajar bahasa yang diajarkan pada mereka. Tahap ini adalah tahap yang sangat penting karena di sinilah manusia mengumpulkan segala macam dasar yang akan dipakai pada tahap berikutnya.
Tahap yang kedua adalah dialektika, atau logika. Jika pada tahap gramatika kita mempelajari fakta, pada tahap ini kita mulai membuat hubungan antara satu fakta dengan yang lainnya. Hubungan-hubungan seperti sebab akibat mulai dipelajari dan dipertanyakan. Tahap ini dimulai dengan mengajukan pertanyaan “mengapa”. Kemampuan mengajukan pernyataan dan alasan serta menarik kesimpulan mulai dikembangkan. Di tahap inilah kemampuan abstraksi mulai dikembangkan. Biji yang telah ditanam pada tahap gramatika telah mulai berbunga.
Tahap yang ketiga adalah retorika, atau kemampuan berkomunikasi dan berekspresi. Pada tahap ini kita belajar menyusun fakta-fakta dengan logika yang benar untuk menyusun sebuah pemikiran. Pada tahap ini kemampuan abstraksi mencapai kemampuan tertingginya. Kita bisa mulai merambah area abu-abu maupun daerah yang belum pernah dieksporasi berbekal dengan pengetahuan yang telah diperoleh di tahap sebelumnya. Bunga dari tahap sebelumnya akan berkembang menjadi buah-buah yang bisa dinikmati, sebuah hasil perjuangan yang manis.
Ketiga tahap awal ini dapat digambarkan seperti pada permainan lego. Di tahap gramatika, kita berkenalan dengan bentuk lego yang bermacam-macam. Semakin banyak bentuk yang dikenal semakin kaya pengembangan pada tahap berikutnya. Di tahap dialektika, kita mulai mencoba memasang satu bentuk dengan yang lainnya, pas atau tidak. Eksplorasi adalah kata kunci di tahap ini. Trial-and-error dibantu oleh bimbingan guru akan semakin memantapkan tahap ini. Di tahap retorika, mulailah kita membuat bentuk-bentuk yang kita inginkan. Di sinilah kemampuan berekspresi diuji. Sintesis menjadi kata kunci di tahap ini.
Quadrivium, yang diberikan pada universitas di abad pertengahan dapat dijelaskan secara singkat seperti berikut ini. Quadrivium sendiri adalah ilmu sebagai subjek seperti yang dikenal sekarang. Aritmatika adalah ilmu yang mempelajari tentang angka pada dirinya sendiri. Geometri mempelajari tentang angka di dalam ruang. Musik mempelajari tentang angka di dalam waktu. Dan astronomi, yang sering dianggap sebagai ilmu tertinggi, adalah ilmu yang mempelajari angka di dalam ruang dan waktu. Teologi yang menjadi corak pendidikan gereja juga kerap dimasukkan ke dalam pendidikan sebagai pemberi tujuan.
Sejarah membuktikan bahwa pendidikan klasik telah menyediakan lahan yang subur sehingga setelah saatnya, Renaissance, Eropa menjadi tempat persemaian ilmu pengetahuan yang berkembang pesat sampai saat ini. Yang menjadi pertanyaan ialah apakah pendidikan klasik ini masih dapat diterapkan pada saat ini, mengingat kegagalan pendidikan modern yang hanya menciptakan manusia-manusia hamba dan robot. Untuk hal ini, dengan sedikit penyesuaian, pendidikan klasik dapat dijadikan alternatif untuk membawa perubahan di tengah jaman yang pragmatis ini. Charlotte Mason, seorang penggagas pendidikan klasik, memberikan banyak hal yang menjadi inspirasi dari tulisan ini.
Gramatika, yang menjadi dasar, dapat diberikan pada usia sekolah dasar, yaitu di usia 7-12 tahun. Yang pertama-tama perlu diperhatikan ialah pengajaran bahasa, karena kemampuan berbahasalah yang akan menyediakan medium untuk perkembangan ilmu yang lain. Bahasa ibu tentunya perlu mendapatkan prioritas. Kemampuan menulis dasar seperti penulisan kalimat yang baik dan membuat karangan sederhana juga perlu ditekankan. Bahasa Inggris juga perlu diberikan sebagai bahasa kedua sejak dini, mengingat peranan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang semakin penting, khususnya setelah era Internet. Di Indonesia, hal ini menjadi semakin relevan mengingat sebagian besar literatur masih berbahasa Inggris. Yang kedua adalah kemampuan matematika, yang akan dijadikan dasar pijakan ilmu-ilmu pasti di kemudian hari. Kemampuan aritmatika tentunya menjadi pilihan utama. Yang ketiga ialah pengembangan kesadaran, melalui pelajaran sejarah dan geografi. Di sini anak diperkenalkan dengan fakta-fakta sejarah dan geografi, melalui cara yang menyenangkan seperti bercerita dan melihat gambar. Pengembangan kesadaran ini akan memberikan rasa identitas kepada anak, yang akan memberikan landasan awal untuk bertolak pada tahap berikutnya. Yang terakhir adalah pengembangan keingintahuan, melalui pelajaran ilmu alam. Anak di sini diajak untuk menjadi seorang pengamat dan pencatat yang baik. Fakta-fakta dasar yang telah teruji kebenarannya, seperti gravitasi dan evolusi juga perlu diberikan kepada anak didik. Musik dan seni lainnya juga dapat diajarkan untuk mengasah nilai rasa dan estetika anak. Kemampuan anak di usia ini yang mampu menyerap segala macam hapalan harus dimanfaatkan sejauh mungkin untuk menyerap dasar-dasar ilmu. Hal ini menjadi kritis karena bahan-bahan yang diberikan akan sangat mempengaruhi perkembangan anak di tahap yang lebih lanjut.
Dialektika adalah tahap di usia sekolah menengah pertama. Di tahap ini, logika sebagai sebuah ilmu tersendiri perlu diperkenalkan. Subjek yang diberikan sebenarnya masih sama dengan tahap gramatika. Yang membedakan adalah cara belajarnya. Pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” harus ditumbuhkembangkan di tahap ini. Matematika, misalnya, sudah bisa mulai memasukan aljabar dan geometri. Studi sejarah dan geografi perlu melibatkan komparasi dan relasi, ketimbang sekedar kronologis maupun spasial. Ilmu-ilmu sosial lain bisa mulai diperkenalkan sebagai kelanjutan logisnya. Ilmu-ilmu alam diajarkan dengan pemahaman hukum-hukum alam dan penjelasan logisnya. Metode ilmiah perlu diperkenalkan secara formal dalam menarik kesimpulan. Anak didik juga perlu mulai diperkenalkan dengan literatur-literatur klasik, baik lokal maupun dunia. Dan bukan hanya sekedar membaca, mereka juga harus menangkap pemikiran-pemikiran yang diusung oleh penulis-penulis literatur tersebut. Bahasa internasional lain seperti Jerman, Prancis, Spanyol, Arab maupun Mandarin bisa diajarkan untuk memperluas literatur yang dapat dibaca. Untuk anak yang sangat berbakat, pengajaran bahasa Latin dan Yunani bisa menjadi bahan pertimbangan. Kemampuan menulis secara utuh juga mulai diajarkan. Kemampuan menulis esai maupun fiksi dapat dijadikan sebagai sebuah tonggak keberhasilan di tahap ini. Diskusi dan debat dapat dipakai selanjutnya untuk mengasah kemampuan logika mereka.
Di tahap retorika, tahap usia sekolah menengah atas, anak didik diharapkan sudah mampu melakukan sistesis dari apa yang telah mereka sebelumnya. Matematika, ilmu alam dan ilmu sosial bukan lagi pelajaran yang terpisah melainkan satu. Sejarah dan geografi juga diintegrasikan untuk memberikan nilai humanisme. Ilmu filsafat sebagai ibu dari semua ilmu sudah bisa diperkenalkan. Literatur-literatur tingkat lanjut diharapkan dapat memperkaya wawasan mereka. Kemampuan memilah informasi, mana yang penting dan tidak penting, mana yang relevan dan tidak relevan, menjadi kegiatan sehari-hari. Kemampuan orasi dan menulis diharapkan telah mencapai tahap tertinggi. Sebagai sebuah tonggak final, anak diharapkan dapat membuat sebuah tulisan komprehensif mengenai sebuah topik, yang kemudian diujikan di depan pengajar. Keberhasilan mempertahankan tulisannya akan menjadi tanda kelulusannya dari trivium.
Liberal arts, yang mengusung kata liberal yang berarti membebaskan, khususnya setelah trivium diharapkan dapat membentuk anak didik yang:
(1)   mampu membaca dan menyimak dengan baik
(2)   mampu berpikir dengan jernih dan mengekspresikan dirinya secara persuasif
(3)   mampu menempatkan dirinya dalam ruang, waktu, dan budaya dalam relasinya dengan dunia luar
(4)   mampu mengapresiasi dan belajar dari perbedaan antara dirinya dan orang di tempat dan masa yang berbeda
(5)   mampu menikmati keindahan yang terpapar di hadapannya
(6)   mampu belajar secara mandiri dan berkelanjutan, dengan menggunakan lima kemampuan di atas
(7)   mengevaluasi dan mengarahkan semua ilmu yang dipelajarinya menuju ke kebenaran sejati (Wes Callihan, dalam Schola Classical Tutorials).
Quadrivium, sebagai dasar pendidikan tinggi memuat modal lanjutan untuk pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi awal (strata satu) perlu dikembalikan sebagai sarana untuk mencetak doktorandus, atau calon doktor. Pendidikan liberal arts justru tidak mengkotak-kotakkan ilmu seperti kecenderungan umum sekarang. Mahasiswa meneruskan trivium dengan menambah amunisi baru untuk pertempuran berikutnya. Amunisi lanjut ini ialah matematika, fisika, kimia, biologi, antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah, filsafat, bahasa asing, atau ilmu-ilmu murni lainnya. Dalam empat tahun (mengikuti tradisi quadrivium) mahasiswa menyelesaikan semua ilmu murni ini pada tahap elementer. Studi ini akan ditutup dengan sebuah ujian komprehensif untuk menguji penguasaan mahasiswa atas masing-masing subjek. Kelulusan akan menjadi sebuah tonggak kesiapan mahasiswa untuk menjadi seorang kandidat doktor, meninggalkan masa magang (apprenticeship) untuk memulai petualangannya sendiri di belantara ilmu pengetahuan.
Manusia-manusia yang dilahirkan dari pendidikan klasik ini, setelah melalui jalan yang panjang, diharapkan memiliki kemampuan sebagai penerus peradaban manusia dan membawa umat manusia ke masa depan yang lebih baik.




JIKA SOBAT KESULITAN UNTUK MENDAPATKAN FILENYA, SOBAT BISA MENDAPATKANNYA DI SINI............




adf.ly

http://adf.ly/?id=1499578