wCSUfbj0jCfxbkpQufYnAiiwrifpe8kDKSjPJHFZ

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 21 Maret 2012

MODEL PENDIDIKAN DI PESANTREN (STUDI KASUS DI INDONESIA)



                                                                                                                                                                               

MAKALAH


Diajukan Dalam Diskusi Kelas
Dalam Mata Kuliah Sejarah Sosial Pendidikan Islam
 Yang dibina oleh :
Prof. Dr. Miftah Arifin, M.Ag




 
Oleh :

IDA RAHMAWATI
NIM : 084 911 0150


PROGRAM PASCA SARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
DESEMBER 2011


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam, prosentasenya mencapai 88%. Bahkan merupakan jumlah muslim terbesar di dunia. Berkaitan dengan itu pendidikan yang ada di Indonesia tidak hanya di sekolah umum, ataupun di madrasah, melainkan ada juga pondok pensantren. Tetapi masih banyak masyarakat yang belum memehami betul tentang pondok pesantren.
Maka dalam makalah ini akan dibahas tentang pondok pesantren, mulai dari pengertian, tujuan, bagaimana karakteristik pondok pesantren, tipologi atau model-model pondok pesantren dan juga dibahas pula tentang sistem pendidikan yang ada dipondok pesantren. Sehingga  masyarakat mengenal betul tentang pondok pesantren, dan tidak lagi menganggap sebelah mata tentang pondok pesantren.
B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pengertian pondok pesantren?
2.      Apa tujuan pendidikan pondok pesantren?
3.      Apa karakteristik pondok pesantren?
4.      Bagaimana tipologi atau model-model pendidikan di pondok pesantren?
5.      Bagaimana sistem pendidikan pondok pesantren?
C.      Tujuan Pembahasan
Dari rumusan masalah diatas, maka makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.      Memahami tentang pengertian pondok pesantren.
2.      Mengetahui tujuan pendidikan pndok pesantren.
3.      Mengetahui karakteristik pondok pesantren.
4.      Memahami tipologi atau model-model pendidikan di pondok pesantren.
5.      Memahami sistem pendidikan pondok pesantren.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Pondok Pesantren
Kehadiran kerajaan Bani Umayah menjadikan pesatnya ilmu pengetahuan, sehingga anak-anak masyarakat islam tidak hanya belajar dimasjid tetapi juga pada lembaga-lembaga yaitu “kuttab” (pondok pesantren). Kuttab, dengan karakteristik khasnya, merupakan wahana dan lembaga pendidikan islam yang semula sebagai lembaga baca dan tulis dengan sistem halaqah (sistem wetonan). Pada tahap berikutnya kuttab mengalami perkembangan yang sangat pesat karena dengan didukung oleh dana dari iuran masyarakat serta adanya rencana-rencana yang harus dipatuhi oleh pendidik dan peserta didik.
Di Indonesia istilah kuttab lebih dikenal dengan istilah “pondok pesantren”, yaitu suatu lembaga pendidikan islam yang didalamnya terdapat seorang kiai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri (peserta didik) dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan terebut, serta didukung adanya pemondokan atau asrama sebagai tempat tinggal para santri.[1]
Dalam kamus besar bahas Indonesia, pesantren diartikan sebagai asrama, tempat santri, atau tempat murid-murid belajar mengaji. Sedangkan secara istilahpesantren adalah lembaga pendidikan Islam, dimana para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dengan materi pengajaran kitab-kitab klasik dan kitab-kitab umum, bertujuan untuk menguasai ilmu agama Islam secara detail, serta mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian dengan menekankan pentingnya moral dalam kehidupan bermasyarakat.
B.       Tujuan Pendidikan Pondok Pesantren
Tujuan pendidikan pesantren menurut Mastuhu adalah menciptakan kepribadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlak mulia bermanfaat bagi masyarakat atau berhikmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau menjadi abdi masyarakat mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia. Idealnya pengembangan kepribadian yang ingin di tuju ialah kepribadian mukhsin, bukan sekedar muslim.[2]
Sedangkan menurut M.Arifin bahwa tujuan didirikannnya pendidikan pesantren pada dasarnya terbagi pada dua [3] yaitu:
1.      Tujuan Khusus
Yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang ‘alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh Kyai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat.
2.      Tujuan Umum
Yakni membimbing anak didik agar menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar dan melalui ilmu dan amalnya.
C.      Karakteristik Pondok Pesantren
Karakteristik atau ciri-ciri umum pondok pesantren[4] adalah
1.      Adanya kiai
2.      Adanya santri
3.      Adanya masjid
4.      Adanya pondok atau asrama
Sedangkan ciri-ciri  khusus pondok pesantren adalah isi kurikulum yang dibuat terfokus pada ilmu-ilmu agama, misalnya ilmu sintaksis Arab, morfologi arab,hukum islam, tafsir Hadis, tafsir Al-Qur’an dan lain-lain.
Dalam penjelasan lain juga dijelaskan tentang ciri-ciri pesantren dan juga pendidikan yang ada didalamnya, maka ciri-cirinya adalah
1.      Adanya hubungan akrab antar santri dengan kiainya.
2.      Adanya kepatuhan santri kepada kiai.
3.      Hidup hemat dan sederhana benar-benar diwujudkan dalam lingkungan pesantren.
4.      Kemandirian sangat terasa dipesantren.
5.      Jiwa tolong-menolong dan suasana persaudaraan sangat mewarnai pergaulan di pesantren.
6.      Disiplin sangat dianjurkan.
7.      Keprihatinan untuk mencapai tujuan mulia. Hal ini sebagai akibat kebiasaan puasa sunat, zikir, dan i’tikaf, shalat tahajud dan lain-lain.
8.      Pemberian ijazah, yaitu pencantuman nama dalam satu daftar rantai pengalihan pengetahuan yang diberikan kepada santri-santri yang berprestasi.[5]
Ciri-ciri diatas menggambarkan pendidikan pesantren dalam bentuknya yang masih murni (tradisional). Adapun penampilan pendidikan pesantren sekarang yang lebih beragam merupakan akibat dinamika dan kemajuan zaman telah mendorong terjadinya perubahan terus-menerus, sehingga lembaga tersebut melakukan berbagai adopsi dan adaptasi sedemikian rupa. Tetapi pada masa sekarang ini, pondok pesantren kini mulai menampakan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan islam yang mumpuni, yaitu didalamnya didirikan sekolah, baik formal maupun nonformal.
Dengan adanya tranformasi, baik kultur, sistem dan nilai yang ada di pondok pesantren, maka kini pondok pesantren yang dikenal dengan salafiyah (kuno) kini telah berubah menjadi khalafiyah (modern). Transformasi tersebut sebagai jawaban atas kritik-kritik yang diberikan pada pesantren dalam arus transformasi ini, sehingga dalam sistem dan kultur pesantren terjadi perubahan yang drastis, misalnya
1.      Perubahan sistem pengajaran dari perseorangan atau sorogan menjadi sistem klasikal yang kemudian kita kenal dengan istilah madrasah (sekolah).
2.      Pemberian pengetahuan umum disamping masih mempertahankan pengetahuan agama dan bahasa arab.
3.      Bertambahnya komponen pendidikan pondok pesantren, misalnya keterampilan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat, kesenian yang islami.
4.      Lulusan pondok pesantren diberikan syahadah (ijazah) sebagai tanda tamat dari pesantren tersebut dan ada sebagian syahadah tertentu yang nilainya sama dengan ijazah negeri.[6]
D.      Tipologi atau Model Pendidikan di Pondok Pesantren
Seiring dengan laju perkembangan masyarakat maka pendidikan pesantren baik tempat, bentuk, hingga substansi telah jauh mengalami perubahan. Pesantren tak lagi sesederhana seperti apa yang digambarkan seseorang, akan tetapi pesantren dapat mengalami perubahan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan zaman.
Menurut Yacub ada beberapa pembagian model-model pendidikan pondok pesantren[7] yaitu :
1.      Pesantren Salafi yaitu pesantren yang tetap mempertahankan pelajaran dengan kitab-kitab klasik dan tanpa diberikan pengetahuan umum. Model pengajarannyapun sebagaimana yang lazim diterapkan dalam pesantren salaf yaitu dengan metode sorogan dan weton.
2.      Pesantren Khalafi yaitu pesantren yang menerapkan sistem pengajaran klasikal (madrasi) memberikan ilmu umum dan ilmu agama serta juga memberikan pendidikan keterampilan.
3.      Pesantren Kilat yaitu pesantren yang berbentuk semacam training dalam waktu relatif singkat dan biasa dilaksanakan pada waktu libur sekolah. Pesantren ini menitik beratkan pada keterampilan ibadah dan kepemimpinan. Sedangkan santri terdiri dari siswa sekolah yang dipandang perlu mengikuti kegiatan keagamaan dipesantren kilat.
4.      Pesantren terintegrasi yaitu pesantren yang lebih menekankan pada pendidikan vocasional atau kejuruan sebagaimana balai latihan kerja di Departemen Tenaga Kerja dengan program yang terintegrasi. Sedangkan santri mayoritas berasal dari kalangan anak putus sekolah atau para pencari kerja.
Sedangkan menurut Mas’ud dkk ada beberapa tipologi atau model pendidikan pondok pesantren yaitu :
Pesantren yang mempertahankan kemurnian identitas asli sebagai tempat mendalami ilmu-ilmu agama (tafaqquh fiddin) bagi para santrinya. Semua materi yang diajarkan dipesantren ini sepenuhnya bersifat keagamaan yang bersumber dari kitab-kitab berbahasa arab (kitab kuning) yang ditulis oleh para ulama’ abad pertengahan. Pesantren model ini masih banyak kita jumpai hingga sekarang seperti pesantren Lirboyo di Kediri Jawa Timur beberapa pesantren di daerah Sarang Kabupaten Rembang Jawa tengah dan lain-lain.
Pesantren yang memasukkan materi-materi umum dalam pengajaran namun dengan kurikulum yang disusun sendiri menurut kebutuhan dan tak mengikuti kurikulum yang ditetapkan pemerintah secara nasional sehingga ijazah yang dikeluarkan tak mendapatkan pengakuan dari pemerintah sebagai ijazah formal.
Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan umum di dalam baik berbentuk madrasah (sekolah umum berciri khas Islam di dalam naungan DEPAG) maupun sekolah (sekolah umum di bawah DEPDIKNAS) dalam berbagai jenjang bahkan ada yang sampai Perguruan Tinggi yang tak hanya meliputi fakultas-fakultas keagamaan meliankan juga fakultas-fakultas umum. Contohnya adalahPesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur.
Pesantren yang merupakan asrama pelajar Islam dimana para santri belajar disekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi diluarnya. Pendidikan agama dipesantren model ini diberikan diluar jam-jam sekolah sehingga bisa diikuti oleh semua santrinya. Diperkirakan pesantren model inilah yang terbanyak jumlahnya.[8]
E.       Sistem Pendidikan Pondok Pesantren
Sistem yang ditampilkan dalam pondok pesantren mempunyai keunikan dibandingkan dengan sistem yang diterapkan dalam lembaga pendidikan pada umumnya, yaitu:
1.      Memakai sistem tradisional, yang memiliki kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah modern, sehingga terjadi hubungan 2 arah antara kiai dan santri.
2.      Kehidupan dipesantren menampakkan semangat demokrasi, karena mereka praktis bekerjasama mengatasi problem non kurikuler mereka sendiri.
3.      Para santri tidak mengidap penyakit simbolis, yaitu perolehan gelar dan ijazah, karena sebagian besar pesantren tidak mengeluarkan ijazah, sedangkan santri dengan ketulusan hatinya masuk pesantren tanpa adanyaijazah tersebut. Hal itu karena tujuan utama mereka hanya ingin mencari keridhoan Allah SWT semata.
4.      Sistem pondok pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri, dan keberanian hidup.
5.      Alumni pondok pesantren tak ingin menduduki jabatan pemeritahan, sehingga mereka hampir tidak dapat dikuasai oleh pemerintah.[9]
Adapun metode yang lazim digunakan dalam pendidikan pesantren adalah wetonan, sorogan, dan hafalan. Metode wetonan merupakan metode kuliah dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk disekeliling kiai yang menerangkan pelajaran. Santri menyimak kitab masing-masing dan mencatat jika perlu. Metode sorogan sedikit berbeda dari metode weronan dimana santri menghadap guru satu-persatu dengan membawa kitab yang dipelajari sendiri. Kiai membacakan dan menerjemahkan kalimat demi kalimat, kemudian menerangkan maksudnya, atau kiai cukup menunjukan cara membaca yang benar, tergantung materi yang diajukan dan kemampuan santri.
Adapun metode hafalan berlangsung dimana santri menghafal teks atau kalimat tertentu dari kitab yang dipelajarinya. Materi hafalan biasanya dalam bentuk syair atau nazham. Sebagai pelengkap metode hafalan sangat efektif untuk memelihara daya ingat (memorizing) santri terhadap materi yang dipelajarinya, karena dapat dilakukan baik didalan maupun diluar kelas.[10]
Sedangkan jenjang pendidikan dalam pesantren tidak dibatasi seperti dalam lembaga-lembaga pendidikan yang memakai sistem klasikal. Umumnya, kenaikan tingkat seorang santri didasarkan isi mata pelajaran tertentu yang ditandai dengan tamat dan bergantinya kitab yang dipelajarinya. Apabila seorang santri telah menguasai satu kitab atau beberapa kitab dan telah lulus ujian (imtihan) yang diuji oleh kiainya, maka ia berpindah kekitab lain yang lebih tinggi tingkatannya. Jelasnya, penjenjangan pendidikan pesantren tidak berdasarkan usia, tetapi berdasarkan penguasaan kitab-kitab yang telah ditetapkan dari paling rendah sampai paling tinggi.
Tetapi seiring dengan perkembangan zaman kini pondok pesantren banyak yang menggunakan sistem klasikal, dimana ilmu yang dipelajari tidak hanya agama saja, melainkan ilmu umum juga dipelajari.   



BAB III
KESIMPULAN

1.      Pondok pesantren yaitu suatu lembaga pendidikan islam yang didalamnya terdapat seorang kiai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri (peserta didik) dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan terebut, serta didukung adanya pemondokan atau asrama sebagai tempat tinggal para santri.
2.      Tujuan pendidikan pesantren adalah menciptakan kepribadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlak mulia bermanfaat bagi masyarakat atau berhikmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau menjadi abdi masyarakat mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu.
3.      Karakteristik pondok pesantren adalah ada kyai, santri, masjid, dan asrama.
4.      Tipologi atau model-model pendidikan di pondok pesantren yaitu Pesantren Salafi, Pesantren Khalafi, Pesantren Kilat, dan Pesantren terintegrasi.
5.      Sistem pendidikan di pondok pesantren yang lazim digunakan dalam pendidikan pesantren adalah wetonan, sorogan, dan hafalan. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman kini pondok pesantren banyak yang menggunakan sistem klasikal, dimana ilmu yang dipelajari tidak hanya agama saja, melainkan ilmu umum juga dipelajari. 




DAFTAR PUSTAKA

Rais, Amien,  M.Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta. Bandung: Mizan. 1989.
Arifin HM., Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum. Jakarta:Bumi Aksara. 1991.
Khosin, Tipologi Pondok Pesantren. Jakarta: diva Pustaka. 2006.
Mas’ud, dkk. Tipologi Pondok Pesantren. Jakarta: Putra Kencana. 2002.
Mujib,Abdul. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana. 2006.
Masyhud, Sulthon dan Khusnurdilo. Manajemen Pondok Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka. 2003.




[1] Abdul,Mujib.Ilmu Pendidikan Islam.(Jakarta: Kencana Penada Media,2006).hal 234-235
[2] Sulthon Masyhud dan Khusnurdilo. Manajemen Pondok Pesantren. (Jakarta: DivaPustaka, 2003).h 92-93.
[3] Arifin HM.Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum.(Jakarta:Bumi Aksara,1991), Hal 248.
[4] Abdul mujib.Opcit. hal 235
[5] Sulthon Masyhud dan Khusnurdilo.Opcit. Hal 93-94
[6] Abdul mujib.Opcit. hal 237-238
[7] Khosin.Tipologi Pondok Pesantren.(Jakarta: diva Pustaka,2006). Hal 101.
[8] Mas’ud, dkk. Tipologi Pondok Pesantren (Jakarta: Putra Kencana,2002), hal 149-150.
[9] Amien Rais M.Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta.(Bandung: Mizan,1989). Hal 162.
[10] Sulthon Masyhud dan Khusnurdilo. Opcit.hal 89.



JIKA SOBAT KESULITAN UNTUK MENDAPATKAN FILENYA, SOBAT BISA MENDAPATKANNYA DI SINI............





RUMAH ULAMA DAN ISTANA KHALIFAH SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN



MAKALAH
Dipresentasikan untuk memenuhi Tugas
Mata Kuliah Sejarah Sosial Pendidikan Islam
Yang dibina oleh :
Prof. Dr. H. Miftah Arifin, M.Ag
Dr. H. Mastuki HS. M.A




Oleh :
ST. MUANIFAH
NIM. 08 49110130

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
STAIN JEMBER
DESEMBER 2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Menurut Charles Michael Stanton, lembaga pendidikan Islam dimasa Klasik itu ada dua macam yaitu lembaga pendidikan formal dan informal. Lembaga pendidikan formal adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh negara untuk mempersiapkan pemuda-pemuda Islam agar menguasai pengetahuan agama dan berperan dalam agama, atau menjadi tenaga birokrasi, atau pegawai pemerintahan. Sedangkan lembaga-lembaga pendidikan informal tidak dikelola oleh negara.
Berbeda dengan Stanton, George Makdisi membagi lembaga pendidikan Islam (sebelum lahirnya madrasah) menjadi 2 tipe, yaitu lembaga pendidikan yang exklusif (tertutup) terhadap pengetahuan umum dan lembaga pendidikan yang inklusif (terbuka) terhadap pengetahuan umum.
Rumah-rumah Ulama dan Istana Khalifah merupakan bagian lembaga-lembaga pendidikan Islam non formal atau lembaga pendidikan islam sebelum kebangkitan madrasah, yang telah banyak mewarnai perkembangan pendidikan Islam.
Rumah Al-Arqam sebagai bukti utama yang digunakan Rasulullah Saw untuk mengembangkan dakwah Islam. Istana Harun Al-Rasyid juga sebagai bukti sejarah bahwa Istana Khalifah sebagai tempat belajar diantara lembaga-lembaga yang lain sebelum kebangkitan madrasah.
B.      Masalah atau Topik Bahasan
1.      Berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan Islam
2.      Rumah Ulama sebagai Lembaga Pendidikan
3.      Istana Khalifah sebagai Lembaga Pendidikan
C.    Tujuan Penulisan Makalah
Untuk membahas tentang berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan Islam secara garis besar, lebih spesifik pembahasan pada rumah ulama sebagai lembaga pendidikan dan istana khalifah sebagai lembaga pendidikan.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan Islam
Sebelum berkembangnya sekolah dan universitas yang kemudian dikenal sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sebenarnya telah berkembang lembaga-lembaga pendidikan Islam yang bersifat non formal. Lembaga-lembaga ini berkembang terus dan bahkan bersamaan dengannya tumbuh dan berkembang bentuk-bentuk lembaga pendidikan non formal yang semakin luas. Diantara lembaga-lembaga pendidikan Islam yang bercorak non formal tersebut adalah;[1]
1.      Kuttab sebagai lembaga pendidikan dasar
2.      Pendidikan rendah di Istana
3.      Toko-toko kitab
4.      Rumah-rumah para ulama (ahli ilmu pengetahuan)
5.      Majlis atau saloon kesusastraan
6.      Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal Badwi)
7.      Rumah sakit
8.      Perpustakaan
9.      Masjid, atau
Lembaga-lembaga pendidikan Islam sebelum kebangkitan Madrasah yaitu[2]
1.      Maktab/Kuttab
2.      Halaqah
3.      Majlis
4.      Masjid
5.      Khan
6.      Ribath
7.      Rumah-rumah ulama
8.      Toko-toko Buku dan Perpustakaan
9.      Observatorium dan Rumah Sakit.
B.     Rumah Ulama sebagai Lembaga Pendidikan
Masjid bukanlah satu-satunya tempat diselenggarakannya pendidikan Islam. Rumah-rumah ulama juga memainkan peranan penting dalam mentransmisikan ilmu agama dan pengetahuan umum. Sebagai tempat transmisi keilmuan, rumah muncul lebih awal daripada masjid. Sebelum masjid dibangun, ketika di Mekkah Rasulullah menggunakan rumah Al-Arqam sebagai tempat memberikan pelajaran bagi kaum muslimin. Selain itu, Beliau pun menggunakan rumah Beliau sebagai tempat untuk belajar Islam.[3]
Untuk mencapai tujuan dalam menyampaikan risalah tauhid sangat di perlukan suatu wadah atau lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan merupakan suatu wadah berprosesnya seluruh komponen pendidikan secara berkesinambungan dalam pencapaian tujuan pendidikan yang sempurna. Adakalanya kelembagaan dalam masyarakat secara eksplisit membuktikan bahwa kuatnya tanggung jawab kultural dan edukatif masyarakat dalam mempraktikkan ajaran Islam.
Hasan Langgulung menjelaskan bahwa lahirnya pendidikan islam di tandai dengan munculnya lembaga – lembaga pendidikan islam. Ketika wahyu di turunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW,  
Maka untuk menjelaskan dan mengajarkan kepada para sahabat,Nabi mengambil rumah Al-Arqam bin Abi Arqam sebagai tempatnya, disamping menyampaikan ceramah di berbagai tempat. Atas dasar inilah dapat di katakan rumah Arqam sebagai lembaga pendidikan pertama dalam islam. Hal ini berlangsung kurang lebih 13 tahun. Namun sistem pendidikan pada lembaga ini masih berbentuk halaqah dan belum memiliki kurikulum dan silabus seperti yang di kenal sekarang. Sedangkan sistem dan materi – materi pendidikan yang akan di sampaikan di serahkan sepenuhnya kepada Nabi SAW.[4]
Dengan di jadikanya oleh Rasulullah Muhammad SAW. Rumah  Al-Arqom bin Abi al-Arqom sebagai tempat berkumpul para sahabat dalam menyampaikan wahyu yang di terima dari Allah melalui malaikat Jibril as., ini membuktikan bahwa rumah adalah lembaga pendidikan pertama dalam islam. Dalam pendidikan islam selanjutnya, model sistem pendidikan ini terus di kembangkan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tuntutan masyarakat, dan zaman.
Sebelum masjid di bangun, maka di samping memberi pelajaran di rumah Al-Arqom itu, Nabi juga mengajar di rumahnya di Mekkah, maka berkumpullah manusia di sekitar beliau untuk menerima pelajaran yang di sajikan oleh Nabi. Kondisi tetap seperti ini hingga turunlah surat al-Ahzab ayat 35. ayat ini di turunkan di madinah sesudah masjid di bangun. Dengan turunnya ayat ini Allah telah meringankan kesibukan Nabi di sebabkan mengalirnya manusia kerumah beliau yang boleh di katakan tidak henti-henti.
Meski rumah bukanlah tempat yang ideal untuk memberikan pelajaran, banyak rumah ulama yang dipakai sebagai tempat belajar. Mungkin saja pelajaran di rumah dapat mengganggu penghuni rumah tersebut, namun ulama-ulama tidak keberatan rumahnya dipakai tempat belajar, Hal ini disebabkan semangat menyebarkan pengetahuan mereka dan karena belajar mengajar mempunyai nilai ibadah. Mereka dengan ikhlas dan senang hati menyediakan rumah-rumah mereka sebagai kelas-kelas belajar. Belajar di rumah-rumah ulama merupakan fenomena umum di masyarakat Islam. Ini menunjukkan tidak ada rasa terganggu atau berat hati bila rumah mereka dipakai tempat belajar. Seharusnya, mereka berbangga hati karena pelajar-pelajar harus datang ke rumah mereka untuk bertanya dan belajar. Banyak laporan sejarah yang menjelaskan bahwa banyak pelajar yang menunggu di depan pintu rumah ulama-ulama. Mereka kesana untuk mencari pemecahan masalah yang mereka hadapi atau mendiskusikan persoalan-persoalan fiqih. Ada diantara mereka yang menghadap ulama untuk meminta riwayat hadis, mendengarkan puisi, atau belajar ilmu lainnya.[5]
Diantara rumah ulama terkenal yang menjadi tempat belajar adalah rumah Ibnu Sina, Al-Gazali, Ali Ibnu Muhammad Al-Fasihi, Ya’qub Ibnu Killis, Wazir Khalifah Al-Aziz billah Al-Fatimy.
Selanjutnya Ahmad Syalabi, mengemukakan bahwa dipergunakannya rumah-rumah ulama dan para ahli tersebut adalah karena terpaksa dalam keadaan darurat,  misalnya rumah Al-Gazali setelah tidak mengajar lagi di Madrasah Nidamiyah dan menjalani kehidupan sufi. Para pelajar terpaksa datang  ke rumahnya karena kehausan akan ilmu pengetahuan  dan terutama karena pendapatnya yang sangat menarik perhatian mereka. Sama halnya dengan Al-Gazali, adalah  Ali Ibnu Muhammad Al-Fasihi, yang dituduh sebagai seorang Syi’ah kemudian dipecat dari mengajar di Madrasah Nidamiyah, lalu mengajar di rumahnya sendiri. Beliau-beliau, karena dikenal sebagai guru dan ulama yang kenamaan maka kelompok-kelompok pelajar tetap mengunjungi di rumahnya untuk meneruskan pelajaran.[6]
C.    Istana Khalifah sebagai Lembaga Pendidikan
Timbulnya pendidikan rendah di istana untuk anak – anak para pejabat, adalah berdasarkan pemikiran bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas – tugasnya kelak setelah ia dewasa. Atas dasar pemikiran tersebut, Kholifah dan keluarganya serta para pembesar istana lainya berusaha menyiapkan agar anak – anaknya sejak kecil sudah di perkenalkan dengan lingkungan dan tugas – tugas yang akan di embannya nanti. Oleh karena itu mereka memanggil guru-guru khusus untuk memberikan pendidikan  kepada  anak –anak mereka.
            Pendidikan anak di istana  berbeda dengan pendidikan anak – anak di kuttab pada umumnya. Di istana orang tua murid (para pembesar di istana) adalah yang membuat rencana pelajaran dan tujuan yang di kehendaki oleh orang tuanya. Guru yang mengajar di istana itu di sebut mu’addib. Kata mu’addib berasal dari kata adab, yang berarti budi pekerti atau meriwayatkan.guru pendidikan anak di istana di sebut mua’ddib, karena berfungsi mendidikkan budi pekerti dan mewariskan kecerdasan dan pengetahuan orang – orang dahulu kepada anak-anak pejabat.[7]
Rencana pelajaran untuk pendidikan di istana pada garis besarnya sama saja dengan rencana pelajaran pada kuttab-kuttab, hanya ditambah atau dikurangi menurut kehendak para pembesar yang bersangkutan, dan selaras dengan keinginan untuk menyiapkan anak tersebut secara khusus untuk tujuan-tujuan dan tanggung jawab yang akan dihadapinya dalam kehidupannya nanti.
Pendidikan di istana,  tidak hanya pengajaran tingkat rendah, tetapi lanjut pada pengajaran tingkat tinggi sebagaimana halaqah, masjid dan madrasah. Guru istana di namakan dengan muaddib. Tujuan pendidikan istana bukan saja mengajarkan ilmu pengetahua bahkan muaddib harus mendidik kecerdasan, hati dan jasmani anak sebagaimana ungkapan Abdul Malik ibn Marwan sebagai berikut: “Ajarkan kepada anak- anak itu berkata benar sebagaimana kau ajarkan Al-Qur’an. Jauhkan anak-anak itu dari pergaulan orang-orang buruk budi, karena mereka amat jahat dan kurang adab. Jauhkan anak-anak itu dari pemalu karena pemalu itu merusak mereka. Gunting rambut mereka supaya tebal kuduknya. Beri makan mereka dengan daging supaya kuat tubuhnya. Ajarkan syair kepada mereka supaya mereka menjadi orang besar dan berani. Suruh mereka menyikat gigi dan minum air dengan menghirup perlahan-lahan bukan dengan bersuara,(seperti hewan). Kalau engkau hendak mengajarkan adab kepada mereka hendaklah dengan tertutup tiada di ketahui oleh seorang pun.”[8]
Contoh dari rencana pelajaran dan petunjuk-petunjuk yang dikemukakan oleh pembesar istana kepada pendidik anak-anaknya agar dijadikan sebagai pedoman.
Adapun rencana pembelajaran di istana sebagai berikut:                                         
1. Al-Qur’an (kitabulah)
 2. Hadis-hadis yang termulia
 3. Syair – Syair yang terhormat 
 4. Riwayat hukamah
 5. Menulis membaca dan lain – lain
Petunjuk-petunjuk dan Nasehat pembesar istana kepada Mu’addib.
1.      Berkata Amru Ibnu Utbah kepada pendidik putranya;
“Kerjamu yang pertama untuk memperbaiki putra-putriku ialah memperbaiki dirimu sendiri, karena mata mereka selalu terikat kepadamu. Apa yang kamu perbuat itulah yang baik menurut pandangan mereka, dan yang buruk ialah yang kamu tinggalkan. Ajarkanlah kepada mereka Al-Qur’an, tetapi jagalah agar mereka tidak sampai merasa bosan, karena kalau sampai demikian Al-Qur’an itu akan ditinggalkannya, dan janganlah mereka dijauhkan dari Al-Qur’an, nanti mereka meninggalkan Al-Qur’an sama sekali. Riwayatkanlah kepada mereka hadis dan syair yang baik-baik. Jangan kamu bawa mereka berpindah dari suatu ilmu ( sesuatu pelajaran) kepada ilmu yang lain sebelum ilmu itu difahaminya betul-betul. Sebab ilmu yang bertimbun-timbun dalam otak sukar difahamkan. Ajarkanlah kepada mereka jalan orang-orang bijaksana. Jauhkan mereka dari berbicara dengan perempuan-perempuan. Janganlah engkau bersandar kepada kemaafanku, karena akupun telah menyerahkan sepenuhnya kepada kecakapanmu”.[9]
2.      Harun Al-Rasyid telah mengajukan rencana pelajaran bagi putranya (Al Amin) dengan mengatakan sebagai berikut;
“Hai Ahmar! Sesungguhnya Amirul Mu’minin telah memberikan kepadamu buah hatinya, maka jadikanlah tanganmu terbuka kepadanya dan ketaatannya kepadamu wajib. Janganlah berdosa terhadapnya agar engkau selalu berada ditempat kedudukanmu yang telah ditentukan oleh Amirul Mu’minin. Bacakanlah kepadanya Al-Qur’an. Ceritakanlah kepadanya peristiwa-peristiwa. Riwayatkan kepadanya syair-syair. Ajarkanlah kepadanya sunnah-sunnah Nabi Muhammad Saw. Tunjukkan kepadanya bagaimana menyusun perkataan dan memulainya. Laranglah dia ketawa kecuali pada waktunya. Biasakanlah dia menghormati orang-orang besar Bani Hasyim bila mereka mengunjunginya, dan meninggikan tempat duduk panglima-panglima tentara, bila mereka menghadiri majelisnya. Jangan dibiarkan waktu berlalu walaupun sesaat tanpa  engkau ikhtiarkan sesuatu yang berfaedah baginya, tetapi dengan tidak menyusahkan hatinya, karena bila hatinya susah tumpullah otaknya. Janganlah engkau terlampau berlapang dada terhadapnya, karena dengan demikian dia akan malas bekerja dan terbiasa menganggur. Asuhlah dia dengan baik dan lemah lembut sedapat mungkin, akan tetapi kalau yang demikian tidak mempan terhadapnya maka pakailah kekuatan dan kekerasan terhadapnya.[10]
3.      “Sesungguhnya anakku ini adalah cahaya matamu. Aku serahkan kepada engkau untuk memberi adab kepadanya. Maka, tugas engkau adalah bertakwa kepada Allah dan menunaikan amanah. Wasiatku yang pertama kepada engkau supaya engkau ajarkan kepadanya kitabulah. Kemudian engkau riwayatkan kepadanya syair – syair yang baik. Sesudah itu engkau ajarkan riwayat kaum Arab dan syair mereka yang baik. Perlihatkan kepadanya sebagian yang halal dan yang haram serta pidato pidato dan riwayat peperangan”.
                                                                     

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Masjid bukanlah satu-satunya tempat diselenggarakannya pendidikan Islam. Rumah-rumah ulama juga memainkan peranan penting dalam mentransmisikan ilmu agama dan pengetahuan umum. Sebagai tempat transmisi keilmuan, rumah muncul lebih awal daripada masjid. Sebelum masjid dibangun, ketika di Mekkah Rasulullah menggunakan rumah Al-Arqam sebagai tempat memberikan pelajaran bagi kaum muslimin. Selain itu, Beliau pun menggunakan rumah Beliau sebagai tempat untuk belajar Islam.
Dengan dijadikannya oleh Rasulullah Saw. rumah  Al-Arqom bin Abi al-Arqom sebagai tempat berkumpul para sahabat dalam menyampaikan wahyu yang di terima dari Allah melalui malaikat Jibril as., ini membuktikan bahwa rumah adalah lembaga pendidikan pertama dalam islam. Dalam pendidikan islam selanjutnya, model sistem pendidikan ini terus di kembangkan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tuntutan masyarakat, dan zaman.
Pendidikan anak di istana  berbeda dengan pendidikan anak – anak di kuttab pada umumnya. Di istana orang tua murid (para pembesar di istana) adalah yang membuat rencana pelajaran dan tujuan yang di kehendaki oleh orang tuanya. Guru yang mengajar di istana itu di sebut mu’addib. Kata mu’addib berasal dari kata adab, yang berarti budi pekerti atau meriwayatkan.
Pendidikan di istana,  tidak hanya pengajaran tingkat rendah, tetapi lanjut pada pengajaran tingkat tinggi sebagaimana halaqah, masjid dan madrasah. Tujuan pendidikan istana bukan saja mengajarkan ilmu pengetahua bahkan mu’addib harus mendidik kecerdasan, hati dan jasmani anak.
Rencana pembelajaran di istana  antara lain; Al-Qur’an (kitabulah), Hadis-hadis yang termulia, Syair – Syair yang terhormat, Riwayat hukamah, Menulis membaca dan lain – lain. Sedangkan petunjuk-petunjuk yang dikemukakan oleh pembesar istana kepada pendidik anak-anaknya agar dijadikan sebagai pedoman.

B.     Saran
Setelah membahas topik diatas kita akhirnya tahu betapa ulama-ulama dan para khalifah/pemimpin terdahulu diawal perkembangan islam, sangat memperhatikan pendidikan untuk putra-putrinya dan generasi penerus perjuangan Islam dengan penuh arif dan bijaksana, sehingga diharapkan bagi penulis dan pembaca bisa introspeksi dan berusaha mampu memperbaiki atas kekurangan-kekurangannya dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya.


DAFTAR PUSTAKA
Asrohah, Hanun. 2001. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu
Nizar, Samsul. 2009.  Sejarah Pendidikan Islam ,Jakarta: Kencana.
Zuhairini, dkk. 2010.  Sejarah Pendidikan Islam ,Jakarta: PT Bumi Aksara.. 
Syalabi, A. 1973. Sejarah Pendidikan Islam (Terj. Muhtar Yahya), Jakarta: Bulan Bintang.


[1]Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara,2010), 89.
[2]Hanun Asrohah, Sejarah pendidikan Islam (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu,  2001),  67.
[3] Ibid, 67.
[4] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2009), 110.
[5]Hanun Asrohah,  Sejarah Pendidikan Islam, 67.
[6] Zuhairini, dkk,  Sejarah Pendidikan Islam, 95.
[7]Ibid, 92. 
[8] Samsul nizar, Sejarah Pendidikan Islam, 61.
[9] A. Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam (Terj. Muhtar Yahya), (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), 51.
[10] Ibid, 60-61.




JIKA SOBAT KESULITAN UNTUK MENDAPATKAN FILENYA, SOBAT BISA MENDAPATKANNYA DI SINI............





adf.ly

http://adf.ly/?id=1499578