wCSUfbj0jCfxbkpQufYnAiiwrifpe8kDKSjPJHFZ

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 25 Maret 2012

Pengertian Evaluasi


Evaluasi berasal dari kata evaluation yang artinya suatu upaya untuk menentukan nilai atau jumlah. Kata-kata yang terkandung didalam defenisi tersebut pun menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi harus dilakukan secara hati-hati, bertanggung jawab, menggunakan strategi, dan dapat dipertanggung jawabkan. Evaluasi dilaksanakan untuk menyediakan informasi tentang baik atau buruknya proses dan hasil kegiatan. Evaluasi lebih luas ruang lingkupnya dari pada penilaian, sedangkan penilaian lebih terfokus pada aspek tertentu saja yang merupakan bagian dari lingkup tersebut.

Suchman dalam Arikunto dan Jabar (2010:1) memandang, “evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan”. Defenisi lain dikemukakan oleh Stutflebeam dalam Arikunto dan Jabar (2010:2) mengatakan bahwa, “evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatife keputusan”.

Pengertian evaluasi lebih dipertegas lagi oleh Sudjana dalam Dimyati dan Mudjiono (2006:191), “dengan batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu”. Lebih lanjut Arifin (2010:5-6) mengatakan, “evaluasi adalah suatu proses bukan suatu hasil(produk). Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai atau arti, sedangkan kegiatan untuk sampai pada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi”. Hal yang senada juga disampaikan oleh Purwanto (2010:3),

Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Evaluasi merupakan kegiatan yang terencanadan dilakuakan secara berkesinambungan. Evaluasi bukan hanya merupakan kegiatan akhir atau penutup dari suatu program tertentu, melainkan merupakan kegiatan yang dilakukan pada permulaan, selama program berlangsung dan pada akhir program setelah program itu selesai.

Sumber :
Arikunto, Suharsimi dan Jabar, Safruddin Abdul, 2010,Evaluasi Progaram Pendidikan Pedoman Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta.
Arifin, Zainal, 2010, Evaluasi Pembelajaran Prinsip,Teknik,Prosedur, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Dimyati dan Mudjiono, 2006, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.
 Purwanto, Ngalim, 2010, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Remaja Rosdakarya, Bandung
Penulis]

-naturalistik. Tujuan evaluasi adalah untuk memahami semua komponen program pembelajaran melalui berbagai sudut pandang yang berbeda. Langkah-langkahh kegiatan evaluasi meliputi obsevasi, merekan hasil wawancara, mengumpulkan data, mengecek pengetahuan awal peserta didik, dan mengembangkan desain atau model.

Sumber :
Arifin, Zainal, 2010, Evaluasi Pembelajaran Prinsip,Teknik,Prosedur, Remaja Rosdakarya, Bandung.


Syarat-syarat umum yang harus dipenuhi dalam mengadakan kegiatan evaluasi dalam proses pendidikan menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:194-198) terurai sebagai berikut : 

1. Kesahihan
Kesahihan menggantikan kata validitas (validity) yang dapat diartikan sebagai ketepatan evaluasi mengevaluasi apa yang seharusnya di evaluasi. untuk memperoleh hasil evaluasi yang sahih, dibutuhkan insturmen yang memiliki/memenuhi syarat-syarat kesahihan suatu instrumental evaluasi. Kesahihan instrument evaluasi diperoleh melalui hasil pemikiran dan hasil pengalaman.

2. Keterandalan
Keterandalan evaluasi berhubungan dengan masalah kepercayaan, yakni tingkat kepercayaan bahwa suatu instrument evaluasi mampu memberikan hasil yang tepat. Gronlund dalam Dimyati dan Mudjiono (2006:196) mengemukakan bahwa, “keterandalan menunjukkan kepada konsistensi (keajegan) pengukuran yakni bagaimana keajegan skor tes atau hasil evaluasi lain yang berasal dari pengukuran yang satu ke pengukuran yang lain”. Dengan kata lain, keterandalan dapat kita artikan sebagai tingakat kepercayaan keajegan hasil evaluasi yang diperoleh dari suatu instrument evaluasi.

3. Kepraktisan
Kepraktisan evaluasi dapat diartikan sebagai kemudahan-kemudahan yang ada pada instrument evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasi/ memperoleh hasil, maupun kemudahan dalam menyimpanya.

Sementara menurut Arikunto dan Jabar (2010:8-9) evaluasi memiliki ciri-ciri dan persyaratan sebagai berikut : 

1.    Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku bagi penelitian pada umumnya.

2.    Dalam melaksanakan evaluasi, peneliti harus berpikir secara sistematis yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lain dalam menunjang kinerja dari objek yang dievaluasi.

3.    Agar dapat mengetahui secar rinci kondisi dari objek yang dievaluasi, perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai faktor penentu bagi keberhasilan program.

4.    Menggunakan standar, Kiteria, atau tolak ukur sebagai perbandingan dalam menentukan kondisi nyata dari data yang diperoleh dan untuk mengambil kesimpulan.

5.    Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai masukan atau rekomendasi bagi sebuah kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan.

6.    Agar informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata secara rinci untuk mengetahui bagian mana dari program yang belum terlaksana, maka perlu ada identifikasi komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi subkomponen, sampai pada indikator dari program evaluasi.

7.    Standar, kriteria, atau tolak ukur diterapkan pada indicator, yaitu bagian yang paling kecil dari program agar dapat dengan cermat diketahui letak kelemahan dari proses kegiatan.

8.    Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.

Sumber : 
Arikunto, Suharsimi dan Jabar, Safruddin Abdul, 2010,Evaluasi Progaram Pendidikan Pedoman Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta..
Dimyati dan Mudjiono, 2006, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.
Pada proses pendidikan evaluasi dilakukan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang dilakukan, serta untuk mengetahui apakah kompetensi dasar dan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan dapat dicapai oleh peserta didik melalui pembelajaran.
Proses pendidikan yang merupakan transformasi kebudayaan dan peradaban menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:193) memiliki unsur-unsur meliputi :
1. Pendidik dan personalnya,
2. Isi Pendidikan,
3. Teknik,
4. Sistem Evaluasi
5. Sarana Pendidikan, dan
6. Sistem administrasi.
Setiap unsur yang ada pada proses transformasi pendidikan membutuhkan kegiatan evaluasi. Dengan demikian setiap ada proses pendidikan pasti ada evaluasi.

Sumber :
Dimyati dan Mudjiono, 2006, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.





JIKA SOBAT KESULITAN UNTUK MENDAPATKAN FILENYA, SOBAT BISA MENDAPATKANNYA DI SINI............




MANAJEMEN PRODUKSI




1.1          Konsep Produksi
Realita sudut kota merupakan program televises berdurasi 15 menit yang di kemas dalam format documenter tv.tema yang penulis ankat pada episode kali adalah pendidikan dan kebudayaan yang menceritakan tentang kehidupan seorang guru bunting.

Meskipun arson memiliki kekuranan,arson tidak putus semangat hidup dan terus menjalani kehidaupan dengan penuh perjuangan.arsun adalah seorang guru sd maskuning kulon 3 tang terletak di desa pujer.Arson yang buntung tidak pernah malu dalam hal apapun termasuk mengajar,mengajar adalah salah satu kegitan arson sehari hari.

1.2          Analisa Pemilihan Judul
Realita sudut kota itu judul dari program yang kami buat,subjek film yang kami buat adalah mengangkat sebuah perjuangan hidup yang kokoh dan penuh rintangan.

1.3          Analisa Pemilihan Lokasi
Kami memilih lokasi di rumah dan skolah yang terletak di jln maskuning kulon  pujer dan alas an kami memilih lokasi tersebut karna di situlah letak jalan hidup arson

1.4          Analisa Stasiun TV
Hamper semua stasiun tv menayangkan film documenter ini,tetpi kami hanya memilih menayangkan di sekolah kami yakni GMTV




1.5          Anlisa Hari dan Jam Tayang
Hari minggu aalah waktu yang tepat untuk menayangkan acara ini,karena hari minggu adalah hari santai dimana bagian orang yang sedang brekumpul did pan tv hususnya di kalangan remaja dan dewasa
Kami menayangkan pukul 10 pagi

1.6          Kompetitor Program Sejenis
Banyak sekali stasiun tv yang sudah menayangkan film dokumenter dan banyak sekali yang menyukai film dokumenter karena selain menghibur juga menambah pengetahuan bagi pemirsa


Tabel kompetitor program sejenis

STASIUN TV
JUDUL PROGRAM
JAM TAYANG
KET
GMTV
Orang pinggiran
10.00 WIB
Program televisi yang menceritakan tentang perjuangan hidup seorang guru buntung yang mengajar di SD maskuning kulon 3







1.7          Kompetitor acara pada hari dan jam tayang yang sama pada stasiun TV lain
STASIUN TV
JUDUL PROGRAM
RCTI
FILM HIBURAN “ ICE AGE”
SCTV
GALA KELUARGA
ANTV
GOSIP
TRANS TV
CERIWIS
TRANS 7
KULINER
TPI
GREBEG PASAR
GLOBAL TV
GOSIP

1.8          Analisa target dan penonton
A.
Usia
17 Tahun ke atas
B.
Jenis Kelamin
Pria dan Wanita
C.
SES
B dan C
D.
Stasiun TV
GMTV
E.
Hari / Jam Tayang
Minggu pukul 10.00 WIB

1.9          Analisa Target Penonton
Acara ini dikhususkan untuk remaja dan dewasa. Karena pada seusia mereka, mereka lebih mengerti film dokumenter. Selain itu remaja dan dewasa sangat berperan penting dalam melestarikan kebudayaan, karena mereka adalah generasi yang wajib untuk melestarikan perjuangan hidup.

1.10    Analisa Targer Jenis Kelamin
Program ini ditargetkan untuk pria dan wanita karena sangat penting untuk perjalanan hidup.


1.11    Analisa Target Sosial
Program ini mempunyai spesifikasi target khusus. Pemfokusan target ini untuk merubah hidup seseorang dari segi fisik.

Referensi Program Sejenis

JUDUL PROGRAM
KETERANGAN
Orang Pinggiran
Program televisi ini berformat dokumenter. Orang pinggiran adalah sebuah program yang berisikan kisah seorang yang mempunyai semangat hidup walaupun ia memiliki keterbatasan fisik, jadi pada intinya program ini dikhususkan untuk remaja dan dewasa.


Pasal 1
POKOK PERJANJIAN
1.           Bahwa PIHAK I akan bertindak sebagai PRODUSER untuk Produksi Video Dokumenter.
2.           Bahwa PIHAK II akan bertindak sebagai SUTRADARA untuk Produksi Dokumenter.
3.           Bahwa PIHAK III akan bertindak sebagai VIDEOGRAFI untuk Produksi Video Intruksional.
4.           Bahwa PIHAK IV akan bertindak sebagai SCRIPT WRITER dan penulis naskah untuk Produksi Video Dokumenter.
5.           Bahwa PIHAK V akan bertindak sebagai EDITOR untuk Produksi Video Dokumenter.
6.           Masing-masing PIHAK akan menerima pekerjaan yang ditetapkan dan turut bertanggung jawab atas kelancaran pembuatan tugas film dokumenter tersebut.

Pasal 2
PEMBAYARAN

Bahwa PIHAK I akan menyediakan dana sebesar Rp. 95.000
Bahwa PIHAK II akan menyediakan dana sebesar Rp. 95.000
Bahwa PIHAK III akan menyediakan dana sebesar Rp. 95.000
Bahwa PIHAK IV akan menyediakan dana sebesar Rp. 95.000
Bahwa PIHAK V akan menyediakan dana sebesar Rp. 95.000

Pasal 3
MASA BERLAKU KERJASAMA

Dimulai sejak ditandatangani kerjasama ini dan akan berlaku sampai tanggal Tiga puluh satu Januari Duaribu duabelas.



Pasal 4
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN

1.    Masing-masing PIHAK berkewajiban mengikuti pembimbingan yang telah ditetapkan oleh produser.
2.    Masing-masing PIHAK menyediakan berkewajiban sejumlah dana yang telah disepakati pasal 2.
3.    Masing-masing PIHAK sesuai jabatan/tanggung jawabnya wajib membuat segala macam persiapan sesuai jabatannya yang sesuai dengan pasal 1.
4.    Masing-masing PIHAK berkewajiban melaksanakan tugasnya pada pra produksi, produksi, pasca produksi.
Pasal 5
SANGSI

1.    Setiap pihak tidak bisa keluar begitu saja dari persetujuan yang telah disepakati.
2.    Setiap pihak boleh keluar dari perjanjian yang disepakati, tetapi tidak mendapatkan nilai uju kopetensi.
3.    Bila slah satu puhak tidak melaksanakan tugasnya, maka pihak lain bisa menganggapnya telah bohong.


Pasal 6
PERSELISIHAN

1.           Setiap konflik yang timbul dalam pelaksanaan perjanjian ini, diselesaikan secara musyawarah.
2.           Apabila dengan jalan musyawarah tidak mufakat, maka masing-masing pihak menyelesaikannya dengan cara damai.

Demikian surat perjanjian ini dibuat oleh masing-masing pihak dalam keadaan sadar dan tidak ada paksanaan  dari pihak lain.

Bondowoso, 31 Januari 2012

PIHAK I


PIHAK II
PIHAK III


PIHAK IV
PIHAK V


          SAKSI



Guru Pembimbing



SURAT PERJANJIAN CREW

Yang bertanda tangan dibawah ini, sebagai PIHAK PARTAMA.


No.
NAMA
JABATAN
NO. TELP
TTD
1.
Irhamullah
Produser
085236234232

2.
Dwi Purnomo
Sutradara
087712723545

3.
Muhlas Edi Sofyan
Kameramen
085230527681

4.
Zainiah
Penulis Naskah
081937565553

5.
Rahmat Kurniawan
Editor
087757970116


Menyatakan BERSEDIA membantu PIHAK KEDUA
Nama         : Irhamullah
Jabatan      : Produser
No. Telp     : 085236234232




JIKA SOBAT KESULITAN UNTUK MENDAPATKAN FILENYA, SOBAT BISA MENDAPATKANNYA DI SINI............





Rabu, 21 Maret 2012

GERAKAN PENTERJEMAHAN DI MASA ABBASIYAH MODAL AWAL ILMU PENGETAHUAN




Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sejarah Sosial Pendidikan Islam
Yang dibina oleh Prof. Dr. Miftah Arifin, M.Ag.






Oleh:

IDRIS MAHMUDI, Amd.Kep; S.Pd.I.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
KONSENTRASI PEMIKIRAN ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA
STAIN JEMBER
Desember, 2011

A.    Latar Belakang
Tulisan singkat ini dimaksudkan membedah kegemilangan masa dinasti Abbasiyah dimana puncaknya adalah saat terjadi proses penterjemahan karya-karya ilmuan klasik terutama filosof imperium Yunani. Sejarah islam ditandai oleh berbagai vareasi jatuh-bangun dan naik-turun kekuatan politik kaum muslimin. Namun supremasi mereka atas golongan non-muslim di semua bidang, termasuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tetap bertahan bahkan masa-masa titik paling rendah kekuatan politik dan militer mereka. (Madjid, 2009 : 9-10). Hal ini menjadi starting point bagi peradaban dunia islam terutama dalam sains, pendidikan islam, ketatanegaraan, hukum dan lain-lain. Tulisan ini merupakan tugas perkuliahan program pasca sarjana di STAIN Jember untuk mata kuliah Sejarah Sosial Pendidikan. Dengan tulisan ini diharapkan proses perkuliahan dan diskusi semakin hidup dan dinamis.
B.     Pembahasan.
Cikal bakal ilmu pengetahuan dalam islam sudah berlangsung beberapa abad yang lalu, puncaknya justru di zaman klasik dimana saat itu barat (Eropa) masih dalam zaman kegelapan (The Dark of Age). zaman kegelapan Eropa itu terjadi penyebab terbesarnya adalah dominasi serta ortodoksi gereja yang kemudian berselingkuh dengan kerajaan/kaisar yang melahirkan doktrinasi sistem keyakinan. Doktrinasi itu membunuh rasionalitas para pemikir dan filosof yunani saat itu. Disaat itulah peradaban islam tampil dengan mempelajari karya-karya pemikir dan filosof barat. Pada zaman pra-modern, tidak ada masyarakat manusia yang memiliki etos keilmuan yang begitu tinggi seperti pada masyarakat muslim. Tentu perbedaan bahasa menjadi kendala tersendiri bagi bayi peradaban islam. Oleh karena itu dilakukan gerakan penterjemahan (transliterasi) agar mampu diserap alam pikiran yunani dari sumbernya langsung.
Ciri masyarakat islam klasik ialah etos keilmuannya yang amat tinggi. Etos keilmuan itulah yang kelak diwariskan oleh peradaban islam kepada barat, kemudian dikembangkan oleh barat begitu rupa, sehingga mereka justru mendahului kaum muslim memasuki zaman modern, dan membuat kaum muslim dalam kesulitan yang tidak kecil. (Madjid, 2009 : 11 dan 13). Setelah sekian lama islam memimpin peradaban, barulah barat belajar ke timur dan mempelajari karya-karya pendahulu mereka sendiri dari kitab-kitab ulama islam yang telah diramu dan memiliki warna tersendiri. Bahkan Kneller melukiskan :
”in 1000 A.D. Europe was so backward that it had to borrow the islamic sciences wholesale, translating Arabic writings into Latin”.
Pada tahun 1000 M Eropa begitu mundurnya sehingga harus meminjam ilmu pengetahuan islam secara keseluruhan dengan menerjemahkan karya-karya bahasa Arab ke bahasa Latin. (Madjid, 2009 : 14).

Disitulah justru barat merangkak naik melalui start renaisance sementara islam terjebak dalam mistisisme/tasawuf hingga mulai tenggelam lagi. Ibarat sebuah pohon rindang, maka proses penanaman bibitnya terjadi di zaman Rosululloh, perawatannya terjadi dizaman dinasti Ummayah dan berbunga serta panen buahnya di zaman dinasti Abbasiyah. Dengan nada indah Max I Dimont melukiskan :
“in science, the Arabs outdistanced the Greeks. Greek civilization was in essence a lush garden full of beautiful flowers that bore little fruit. It was a civilization rich in philosophy and literature, but poor in techniques and the technology”.
Dalam hal ilmu pengetahuan, bangsa Arab muslim jauh meninggalkan bangsa Yunani. Peradaban Yunani itu dalam esensinya adalah ibarat sebuah kebun subur yang penuh dengan bunga-bunga indah namun tidak banyak berbuah. Peradaban Yunani itu adalah suatu peradaban yang kaya dalam filsafat dan sastra, tapi miskin dalam teknik dan teknologi. (Madjid, 2009 : 15).

Penerjemahan karya-karya Yunani kuno sudah dirintis oleh seorang anggota Bani Ummayah Kholid Ibnu Yazin di Syiria, dan mencapai puncaknya pada zaman Bani Abbas di masa kekholifahan Harun Ar-Rosyid dan anaknya Al-Makmun. (Madjid, 2009 : 3). Puncak transliterasi filsafat dan ilmu-ilmu pendidikan terjadi pada zaman dinasti Abbasiyah khususnya dibawah pemerintahan kholifah Al-Makmun (811-833 M) dimana salah satu orang-orang penterjemahnya adalah Yuhana Ibnu Musyawih dan Hunain Bin Ishaq. (Khudhori, 2004 : xvii). Di zaman itu iklim intelektualisme sangat mengagumkan. Gerakan intelektual itu ditandai oleh proyek penerjemahan karya-karya berbahasa Persia, Sanskerta, Suriah dan Yunani ke dalam bahasa Arab. (Hitti, 2010 : 381). Tiga per empat abad pasca berdirinya Baghdad, dunia literatur Arab telah memiliki karya-karya filsafat utama Aristoteles, karya para komentator Neo-Platonis, tulisan-tulisan kedokteran Galen, juga karya-karya ilmiah Persia dan India. (Hitti, 2010 : 382).
Dimasa peradaban islam klasik ada 3 ilmu yang sangat berkembang pesat, yaitu : Teologi (yang menyangkut Tuhan), ilmu hukum islam (fikih yurisprudensi) dan sains terutama ilmu perhitungan. Untuk perkembangan ilmu fikih/yurisprudensi di zaman Abbasiyah ada 2 :
1.      Ortodox, dimana tokohnya terwakili oleh Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Hambali, Thobari dan Dawud Zhahiri.
2.      Kurang Ortodox, dimana tokoh-tokohnya terwakili :
  1. Ibnu Hayyan (721-815 M) ahli kimia.
  2. Al-Khowarizmi (780-850 M) ahli Matematika.
  3. Al-Kindi (806-875 M) ahli filsafat, terkenal sebagai penerjemah dan juga digelari sang komentator dari karya-karya Aristoteles.
  4. Tsabit Bin Qurroh (833-911 M) ahli geometri.
  5. Al-Battani (858-929 M) ahli astronomi.
Saat kholifah Al-Mutawakkil menjabat, ia mendukung kubu ortodoksi dan memecat Al-Kindi dari jabatannya. Diantara alasan kaum ortodox adalah :
1.      Takut sains Yunani menguasai islam dan orang-orang islam kurang rasa hormatnya pada Tuhan.
2.      Mayoritas yang mempelajari ilmu sains adalah non-muslim.
3.      Melindungi umat islam dari pengaruh faham lain. (Hitti, 2010 : 63).
Perkembangan ilmu pengetahuan dizaman Abbasiyah ditandai dengan adanya proses penterjemahan/gerakan transliterasi. Puncak gerakan transliterasi adalah pada masa kholifah Al-Makmun. (Hitti, 2010 : 62). Kholifah Al-Makmun hunting/memburu karya-karya Yunani dan membangun Baitul Hikmah. (Hitti, 2010 : 386). Penerjemahan berlangsung seabad (mulai 750 M) dan berpusat di Baitul Hikmah. Tokoh kunci yang dipercaya kholifah adalah Hunayn bin Ishaq. Ia seorang penganut sekte Ibadi (pemeluk Kristen Nestar dari Hiroh), dia selaku ketua penerjemah. Dari Hunayn lahirlah tim penerjemah yang banyak diantaranya :
  1. Yahya Al-Balmaki (wafat 857 M).
  2. Yuhana ibnu Musyawaih seorang Suriah kristen.
  3. Muhammad bin Ibrahim Al-Fazafi menerjemahkan Sinddhanta dari bahasa India ke bahasa Arab sehingga lahirlah ilmuwan Al-Khowarizmi.
  4. Al-Fadhl bin Nawbakhti (wafat 815 M) kepala lembaga pustaka Ar-Rosyid menerjemahkan karya dari bahasa Persia ke bahasa Arab.
  5. Ibnul Muqoffa, juga penerjemah. Seorang Zoroaster yang memeluk islam tapi kemudian dibakar hidup-hidup (757 M) karena dituduh menyimpang dari paham ortodox. (Hitti, 2010 : 384).
  6. Abu Yahya bin Bathriq penerjemah langsung dari bahasa Yunani ke bahasa Arab.
  7. Tsabit bin Qurroh (836-901 M) adalah orang Saba penyembah berhala juga seorang penerjemah. (Hitti, 2010 : 391).
  8. Al-Battani (wafat 929 M) juga orang Saba penyembah berhala yang telah masuk islam.
  9. Al-Hajjaj bin Yusuf bin Mathar (486-833 M).
  10. Abul Wafa’ dan Quatha bin Luqa, seorang Kristen dari Baklabak.
  11. Yahya bin Adi dan Abu Ali Isa bin Zur’ah. Yahya adalah uskup tertinggi di gerejanya dari sekte Yakobus/Monofit. Ia menyalin dan menerjemahkan rata-rata 100 lembar/hari.
Corak peradaban islam dipengaruhi oleh 3 peradaban besar sebelumnya, yaitu :
  1. Budaya Yunani yang dikenal dengan kebudayaan Helenisme dan mewakili sisi rasional. Dimana Yunani yang Helenis sebelumnya dipengaruhi oleh kebudayaan Mesir kuno, Babilonia, Phonisia dan Yahudi.
  2. Budaya India yang mewakili corak mistisisme.
  3. Budaya persia yang mewakili corak relegius/spiritualis.
Ketiga kebudayaan/peradaban tersebut yang sangat berpengaruh bagi tumbuhnya peradaban islam hingga zaman keemasan islam menjadi pintu masuk masa reanisance dan melahirkan kebudayaan serta peradaban Eropa sampai sekarang. Oleh karenanya proses transliterasi di masa itu terjadi dari bahasa Yunani ke bahasa Suriah atau Syiria baru ke bahasa Arab. Namun juga transliterasi bisa langsung dari bahsa Yunani ke bahasa Arab karena adanya Hunayn bin Ishaq dan Abu Yahya bin Bathriq. (Hitti, 2010 : 382, dan Khudhori, 2004 : xvii dan xxviii).
C.    Penutup
Demikianlah keemasan dan kegemilangan peradaban Islam dimasa lalu yang hendaknya menjadi teladan untuk kebangkitan islam di hari ini setelah luluh lantak pasca serangan tentara Mongol (Hulagu Khan). Di masa klasik barat dalam masa kegelapan dan islam di timur cemerlang hingga menyinari barat (Eropa khususnya Inggris dan perancis) karena kerendahan hati barat untuk menimba ilmu ke timur. Pasca renaisance, barat justru gemilang dan islam mulai mundur serta terpuruk hingga saat ini (puncaknya adalah saat runtuhnya kekholifahan islam Turki Usmani di tahun 1924 M). Tanpa apriori, hendaknya islam hari ini belajar kembali pada kecemerlangan dan kebangkitan barat. Islam harus menekan ego dan antipatinya kepada barat. Harus rela mendudukkan diri menjadi murid kepada barat dengan nalar yang kritis, dalam arti menyerap yang baik dan meninggalkan atau menyaring yang dianggap buruk. Itulah arti dari dialog peradaban. Jika di barat dengan thesisnya Max Weber ”The Protestan ethics and the spirit of capitalisme” mampu mengubah kegelapan barat, maka ilmuwan muslim harusnya membuat starting point agar terjadi thesis baru ”The Islam ethics and the spirit of science’s and capitalisme” melalui Al-Qur’an dan teladan kejayaan masa lalunya.

DAFTAR PUSTAKA

 Langgulung, Hasan. Asas-Asas Pendidikan Islam, Pustaka Al-Husna Baru, 2008. Jakarta.
 Hitti, Philip P. History of the Arabs, PT Serambi Ilmu Semesta, 2010. Jakarta.
 Sholeh, A Khudori. Warna Baru Filsafat Islam, Pustaka Pelajar, 2004. Yogyakarta.
Madjid, Nurcholish. Kaki Langit Peradaban Islam, Paramadina, 2009. Jakarta.



JIKA SOBAT KESULITAN UNTUK MENDAPATKAN FILENYA, SOBAT BISA MENDAPATKANNYA DI SINI............





adf.ly

http://adf.ly/?id=1499578