Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 26 Maret 2012

MADRASAH PADA MASA KLASIK




I.   Pendahululuan
Perkembangan Pendidikan Islam secara kelembagaan dari zaman klasik islam sampai saat ini tampak berbagai bentuk yang bervariasi, disamping lembaga bersifat umum seperti : kuttab, masjid, dan lembaga-lembaga yang mencerminkan kekhasan islam dan kemudian berkembang menjadi Madrasah.
Madrasah menjadi pokok permasalahan tersendiri dan begitu menarik untuk dibahas dalam menjadi bahan pembicaraan tentang madrasah, makalah yang  kami kami tulis akan memaparkan madrasah sebagai bentuk pendidikan islam yang perubahannya menarik untuk dibahas

II.  Rumusan masalah
Dari tinjauan makalah yang kami tulis muncullah masalah yang kami identifikasikan antara lain :
1.      Pengertian Madrasah
2.      Lahir dan berkembangnya Madrasah pada masa Klasik Islam
3.      Awal berdirinya Madrasah sebagai lembaga Pendidikan
4.      Kurikulum Pendidikan Madrasah Pada Masa Klasik Islam
5.      Tujuan Pendidikan Madrasah pada Masa Klasik Islam
6.      Evaluasi Pendidikan Madrasah Pada masa Klasik

III. Pembahasan
A.      Pengertian Madrasah
Kata Madrasah dalam bahasa Arab adalah bentuk kata "keterangan tempat (zaraf makan) dari kata "darasa" secara harfiyah "madrasah" diartikan sebagai "tempat belajar para pelajar" atau "tempat untuk memberikan pelajaran "[1]. Dari akar kata "darasa" juga bias diturunkan kata "midras" yang mempunyai arti ' buku yang dipelajari" atau "tempat belajar" kata al-midras juga diartikan sebagai "rumah untuk mempelajari kitab Taurat"[2].
Kata "madrasah" juga ditemukan dalam bahasa Hebrew atau aramy, dari akar kata yang sama yaitu "darasa" yang berarti membaca dan belajar" atau "tempat duduk untuk belajar". Dari kedua bahasa tersebut kata "Madrasah" mempunyai arti yang sama "tempat belajar" jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata " Madrasah" memiliki arti "sekolah" kendati pada mulanya kata "sekolah" itu sendiri bukan dari bahasa Indonesia, melainkan dari kata asing yaitu school atau scola.[3]
Sungguhpun secara teknis, yakni dalam proses belajar mengajarnya secara formal, madrasah tidak berbeda dengan sekolah namun di Indonesia madrasah tidak lantas dipahami sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi yakni "sekolah agama' tempat dimana anak-anak dididikmemperoleh pembelajaran hal ikhwal atau seluk beluk agama dan keagamaan (dalam hal ini agama Islam).

B.     Lahir dan berkembangnya Madrasah pada masa Klasik Islam
Dilihat dari perkembangan lembaga-lembaga pendidikan dalam Islam, dapat disimpulakan bahwa madrasah adalah  hasil evolusi dari masjid sebagai lembaga pendidikan, sebelum berpindahnya lembaga pendidikan Islam dari masjid ke Madrasah, sebenarnya masjid sendiri secara fisik telah mengalami evolusi. Lamanya pendidikan di dalam masjid menuntut tersedianya tempat permanent bagi siswa yang dating dari jauh, kebutuhan ini dijawab dengan pengenalan khan (asrama) disamping masjid yang dipelopori oleh Badr bin Hasanawyh. Maka dalam hal ini madrasah merupakan perkembangan berikutnya dari masjid dan masjid berasrama (masjid khan). George makdisi menekankan bahwa masjid khan yang kemudian tumbuh  menjadi madrasah adalah masjid khan tempat di mana fiqih merupakan bidang studi utamanya, ini sesuai dengan pandangan bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan hokum (college of law). Sebagaimana dijelaskan Hasan Asari, Nakosteen menulis :
"Pendidikan yang tersedia di maktab, sekolah istana, dan masjid mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang sangat jelas  berdasarkan tujuan pendidikan, kurikulum sangat terbatas, lembaga-lembaga ini tidak berhasil memikat guru-guru terbaik, fasilitas-fasilitasnya tidak menawarkan lingkungan pendidikan yang kondusif, konflik antara tujuan-tujuan kependidikan dengan tujuan-tujuan keagamaan di masjid hamper tidak bisa didamaikan lagi. Pendidikan menuntut keaktifan (dan menimbulkan kebisingan) yang mengganggu kehidmatan peribadatan, karena itu menjadi penting untuk mengurangi sebanyak mungkin tanggungjawab mesjid yang berkaitan dengan pendidikan. Pendirian sebuah tipe lembaga pendidikan yang baru yakni madrasah, adalah alamiyah dan perlu. Sebuah factor ekternal yang juga berperan dalam pengembangan konsep baru ini adalah kenyataan bahwa kemajuan dan penyebaran pengetahuan melahirkan kelompok orang yang kesulitan membangun kehidupan yang layak dengan pengetahuan abstrak mereka… memajukan pendidikan dan menyediakan penghasilan kelompok ini adalah bagian dari alas an didirikannya madrasah-madrasah."
Dari kutipan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa factor yang menyebabkan timbulnya istilah pengajaran di madrasah yaitu :
Pertama Halaqoh-halaqoh (lingkaran belajar) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, yang didalamnya terjadi berbagai diskusi dan perdebatan, sering mengganggu orang-orang yang beribadah di masjid. Karena itu ada upaya untuk segera memindahkan halaqoh-halaqoh tersebut keluar masjid. Didirikanlah ruangan-ruangan dan kelas-kelas sehingga tidak mengganggu kegiatan ibadah. Lama kemudian muncul keinginan untuk benar-benar memisahkan lembaga pendidikan islam itu dari msjid kebangunan tersendiri yang lebih permanen, dari situlah muncul madrasah.
Kedua dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan, baik agama maupun pengetahuan umum (waktu itu dikenal dengan sebutan al-ulum al-aqliyah, ilmu-ilmu rasional), maka makin banyak diperlukan ruangan dan kelas untuk mengajarkan dan menampung para murid yang kian hari kian bertambah. Masjid tidak bias mengakomodasikan kebutuhan tersebut. Apalagi mulai berkembangnya pendapat bahwa pengetahuan umum sebaiknya tidak diajarkan di dalam msjid. Karena itu madrasah menjadi pilihan yang dianggap cukup memadai untuk menampung kebutuhan tersebut
Ketiga pada abad ke-4 H. syiah telah tumbuh menjadi faham dan gerakan keagamaan yang kuat yang berkembang di hamper seluruh dunia Islam. Syiah tidak hanya menjadi gerakan politik tetapi juga gerakan ilmu pengetahuan yang secara aktif dan sistematis menyebarkan ide-idenya melalui lembaga-lembaga pendidikan, keadaan ini sangat menantang kaum muslimin dari kalangan sunni, karena itu mereka mendirikan madrasah-madrasah sebagai lembaga pendidikan  yang oleh para ulama fiqih kemudian digunakan untuk mengembangkan sekaligus mempertahankan faham ahlusunnah.
Keempat pada masa bangsa Turki Seljuk melulai berpengaruh dalam pemerintahan bani abbasyiah (1055-1194) dan mempertahankan kedudukan mereka dalam pemerintahan, mereka berusaha untuk menarik hati kaum muslimin. Dengan jalan memperhatikan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum, mereka juga berusaha mendirikan madrasah-madrasah ini di berbagai tempat dan dengan dilengkapi sarana dan fasilitas yang diperlukan. Guru-guru digaji secara khusus untuk mengajar dimadrasah-madrasah yang mereka dirikan.
Kelima mereka mendirikan madrasah-madrasah dengan harapan mendapatkan simpati rakyat umum disamping ampunan dan pahala dari Allah SWT.

C.     Awal berdirinya Madrasah sebagai lembaga Pendidikan
Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang awal munculnya madrasah sebagai lembaga pendidikan islam seperti sekarang. Hasan Ibrahim Hasan berpendapat bahwa : Madrasah belum berdiri sebelum abad ke 4 hijriyah (sebelum 10 masehi)[4]. Madrasah yang pertama al-Baihaqiyah di Naisapur. Al-Maqrizi juga mengemukakan hal yang sama, bahwa madrasah yang mula-mula berdiri adalah al-Baihaqiyah di Naisapur, oleh Hasan al-Baihaqi yang wafat pada 414 H.
Hasil penelitian Richard Buliet tahun 1972, mengungkapkan, selama 2 abad sebelum madrasah Nizhamiyah di Baghdad sudah berdiri madrasah di Naisapur sebanyak 39 madrasah dengan madrasah tertua Miyan dahiya yang mengususkan pada pengajaran Fiqih Maliki.[5]
Naji Ma'ruf (1966:9) mengatakan bahwa 1965 tahun sebelum Madrasah Nizhamiyah, sudah ada madrasah di Transoksania dan Khurasan. Sebagai bukti, ia megemukakan data dari Tarikh al-Bukhori yang menjelaskan bahwa Ismail ibn Asad yang wafat pada tahun 295H mempunyai madrsah yang dikunjungi oleh para pelajar untuk melanjutkan pelajaran mereka. Madrasah Naisapur pada masa awalnya didirikan oleh ulama fiqih dengan tujuan utama mengembangkan ajaran mazdhabnya. Pada umumnya madrasah tersebut mengajarkan satu madhab fikih saja dan sebagian besar madhab syafiii[6]. Dari 39 madrasah yang dikemukakan oleh Buliet, hanya satu madrasah yang mengajarkan Fiqih maliki, empat madrasah yang mengajarkan Fiqih Maliki, empat madrasah mengajarkan fiqih Hanafi dan yang lain mengajarkan fiqih syafii.
Madrasah juga pernah muncul pada masa khalifah Abbasyiyah Harun al-Rasyid yang disebut dengan "Madrasah Baghdad" akan tetapi belum popular pada saat itu karena mengalami kemandegan. Madrasah pertama di dunia Islam dan popular adalah madrasah Baihaqiyah di Naisapur pada abad ke-3 Hijriyah, sedangkan menurut penelitian Bulliet (1972) madrasah tertua adalah Miyan Dahiya di Naisapur juga pada abad ke-3 H sedangkan madrasah Nizhamiyah adalah madrasah terbesar pertama di dunia Islam.
Namun demikian tidak mengecilakan arti penting Nizham al-Mulk yang telah berjasa membesarkan nama lembaga pendidikan madrasah. Ia memang bukan orang yang pertama membangun madrasah, tetapi dilihat dari skala usahanya, ia adalah orang yang pertama membangun jaringan lembaga pendidikan yang besar dengan nama madrasah. Ahmad syalabi mengatakan " dalam hal ini, tak seorangpun yang mendahului Nizham al-Mulk. Kalaupun dalam sejarah kemudian nama Nizham al-Mulk lebih terkenal.karena biasanya dalam penulisan sejarah orang sering menunggu fenomena besar, tanpa melihat peristiwa-peristiwa sejarah sebelumnya.
Berikut madrasah yang pernah tumbuh dan berkembang di masa klasik Islam antara lain :
1.      Madrasah-madrasah di Naisapur  (abad ke-4 dibawah dinasti Samaniyah (204-395H . 819-1005M)
2.      Madrasah Nizhamiyah (485 H / 1092 M) pada masa dinasti Saljuk (Nizham al-Mulk)
3.      Madrasah Imam Abu Hanifah Baghdad, (abad ke-5 H/ 11 M)
4.      Madrasah al-Musthansiriyah Baghdad, ( Pendirinya Khalifah Abbassyiyah ke 36, Al-mustansyir (623-640 /1226-1242)
5.      Madrasah Al-Mansyuriyah Kairo, Pendirinya Dinasti Mamalik, Al Mansur Qalawun (678-689H / 1280-1290M)
6.      Madrasah Granada (al-Nashriyah) di Andalusia, Zaman Abu Abdillah Muhammad ibn Muhammad ibn Yusuf tahun 750 H / 1349, di Andalusia
7.      Madrasash Malaga, cordova, didirikan oleh Muhammad bin Muhammad al-Thanjali (733 H / 332 M)
8.      Madrasah Khusus.

D.     Kurikulum Pendidikan Madrasah Pada Masa Klasik Islam
Para ahli sejarah membagi periodisasi sejarah pendidikan Islam jika dihubungkan dengan perkembangan lembaga pendidikannya menjadi tiga periode yaitu masa klasik, masa pertengahan dan masa modern
Muhamad Jawad Ridha dalam "Al-Fikrul al-Tarbiyah al-Islamiyah". Menjabarkan ketiga fase tersebut :
1.      Terhitung mulai masa Nabi Muhammad hijrah sampai berdirinya Dar al-Hikmah di Baghdad
2.      Terhitung mulai berdirinya dar al-hikmah sampai berdinya Madrasah Nizhamiyah
3.      Sejak berdirinya Madrasah Nizhamiyah sampai runtuhnya Khilafah Ustmaniyah.
Beberapa pakar menyebutkan batasan pendidikan Islam dari zaman Nabi Muhamad SAW. Sampai pada perkembangan ilmu pengetahuan di Baghdad, mesir dan sekitarnya (Renaissance Islam). Pembatasan waktu yang dilakukan ahli sejarah pendidikan Islam itu dari mulai klasik sampai modern cenderung lebih mengedepankan aspek kelembagaan ketimbang aspek system kerikulum dan metode pendidikannya. Oleh karena itu sedikit sekali literatur perkembangan aspek tersebut sampai saat ini.
Selanjutnya cakupan kurikulum lembaga pendidikan Islam pada abad ke 10 M dapat dilihat dari berbagai sumber. Salah satunya adalah kitab al-fihrist (indek) oleh Al-Nadzim pada tahun 988 M. sumber kedua adalah karya-karya Ikhwan al-Shafa, sebuah persaudaraan sufi yang mengabdikan diri pada peningkatan pendidikan dunia Islam, yang mengembangkan program pendidikannya secara menyeluruh dalam seragkaian risalah, pendidikan mereka melalui ensiklopedia pendidikan, yang berasal dari Bashrah pada paruh kedua abad ke-10 M, muncul dalam bentuk kompilasi yang sebagian besar dipakai di dunia pendidikan Islam. Topik-topik yang tercakup dalam ensiklopedia pengajaran tersebut adalah :
      Disiplin ilmu, tulis baca arti kata dan gramatika, ilmu hitung, sastra (sajak dan Puisi), ilmu tentang tanda-tanda dan isyarat, ilmu sulap, kimia, dagang dan ketrampilan tangan, jual beli, komersil, pertanian dan peternakan dan biografi serta kisah-kisah.
      Ilmu-ilmu Agama : Ilmu alqur'an, tafsir , hadis, fiqih, dzikir, zuhud, tasawuf, dan syahadah.
      Ilmu-ilmu filosofis : matematika, logika, ilmu hitung, geometri, astronomi, musik, aritmatika, hokum geomatri, ilmu alam, antropologi, zat, bentuk, ruang, elemen, gerakan, kosmologi, produksi, peleburan, mereologi, menerologi, persepsi indrawi, esensi alam dan manifestasinya, botani, zologi, anatomi, antropologi, embriologi, manusia sebagai mikro kosmos, perkembangan jiwa (evolusi psikologi); tubuh jiwa perbedaan bahasa (pilologi), psikologi (pemahaman dunia kejiwaan dan sebagainya) teologi, dokrin teologi, dokrin esoteris Islam, susunan spiritual, serta ilmu alam gaib.
Kurikulum diatas dianggap sebagai kurikulum madrasah tinggi, karena sudah mengenalkan begitu banyak pelajaran umum. Tetapi studi ilmu-ilmu asing itu tidak semua diajarkan mendethail pada tingkat madrasah umum atau khusus. Ada diantara ilmu-ilmu itu yang diajarkan pada tataran dasarnya saja, dan di istana wazir dan pejabat Negara, pelajaran-pelajaran ini lebih kental dikenalkan dan didalami.
Secara umum bentuk kurikulum madrasah pada masa pertumbuhan dari perkembangan pendidikan Islam klasik menggunakan tiga bentuk kurikulum yaitu subject curriculum, correlated Curikulum dan integrated currikulum. Ketiganya  disesuaikan dengan perkembangan madrasah pada periode-periode tertentu.
     Subject Curriculum difokuskan pada materi pelajaran yang diberikan berdiri sendiri, tidak berhubungan dengan pelajaran yang lain. Dalam subject curriculum, mata pelajaran diajarkan secara mandiri, dikembangkan berdasarkan keluasan pelajaran tersebut terhadap ilmu pengetahuan bentuk kurikulum ini biasanya terdapat mata pelajaran utama, seperti al-qur'an, tafsir, fiqih dan lain-lain. Kemudian pelajaran non agama seperti fisika, biologi, ilmu hitung, kedokteran dsb. Subject curriculum dikembangkan pada masa awal berdirinya madrasah dan pertumbuhan pendidikan klasik.
     Correlated curriculum difokuskan pada satu materi pelajaran yang dihubungkan dengan materi pelajaran pelajaran yang lain. Contohnya, materi tafsir dihubungkan dengan hadits, pelajaran fiqih dihubungkan dengan hadits dsb. Bentuk kurikulum seperti ini mendominasi pada masa akhir pendidikan Islam Klasik, yaitu ketik ilmu pengetahuan sudah berkembang dan mengalami renaissance.
     Integrated Curriculum yaitu perpaduan antara materi satu dengan yang lain saling berkaitan, sehingga penyajian bahan pelajaran itu dalam bentuk unit. Kurikulum ini dilaksanakan dalam pelajaran unit, yaitu satu unit mempunyai tujuan yang bermakna bagi mahasiswa madrasah. Kurikulum ini diberikan di dalam pelajaran retorika (dakwah) pada masa madrasah Nizhamiyah sampai pada perkembangan madrasah selanjutnya.

E.  Metode Pengajaran di Madrasah pada masa Klasik Islam.
Jenis metode pengajaran yang diberikan di madrasah antara lain : hafalan, keteladanan, latihan dan praktek. Ini merupakan kelanjutan dari masa Rasullah SAW. Terutama ketika beliau memberikan pelajaran al-Qur'an. Pada perkembangan berikutnya, pendidikan Islam yang dilakukan di madrasah menggunakan metode talqin, dimana guru mendikte dan murid mencatat lalu menghafal. Setelah hafal, guru lalu menjelaskan maksudnya. Metode ini oleh Makdisi disebut metode tradisional; murid mencatat, menuliskan materi pelajaran, membaca, menghafal dan setelah itu berusaha memahami arti dan maksud pelajaran itu.
Hasan Langgulung, menyebutkan metode pengajaran di madrasah pada masa pendidikan Islam klasik masih belum runtut, tetapi setidaknya, metode induktif, deduktif, analogi, bercerita, dan metode kunjungan sudah dilakukan. Yang tidak dapat terlupakan dalam pengembangan metode pengajaran adalah diperkenalkannya mentode Tanya jawab yang biasanya dilakukan dalam sebuah ta'liqah (perdebatan). Metode ini dilakukan pada mata pelajaran, sebagaimana dilakukan dalam pembaharuan pendidikan Islam di Mesir dan Syiria (1220H/ 1805).
Metode pengajaran yang diterapkan di madrasah-madrasah pada masa klasik islam tidak bisa dilepaskan, bahkan sangat boleh jadi dipengaruhi langsung oleh tujuan pendidikan madrasah itu.

F. Tujuan Pendidikan Madrasah pada Masa Klasik Islam
Tujuan pendidikan Madrasah pada masa klasik Islam dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Tujuan Institusional
Pada masa pendidikan Islam klasik, rumusan tujuan pendidikan di Madrasah secara institusional sudah ada. Ini terlihat pada motivasi dan pendirian madrasah Nizham al-Mulk di Baghdad yang bertujuan mengembangkan madhab syafii, kemudian al-Azhar pada masa Dinasti Fatimiyah yang mengembangkan madhab Syiah, setelah itu pada zaman dinsti Ayyubiyyah tujuan institusional al-Azhar diubah untuk mengembangkan faham sunni. Pada decade berikutnya, seiring dengan makin banyaknya madrasah yang dibangun, tujuan institusional lembaga pendidikan madrasah dikuatkan dengan hadirnya Hanafie Instute (madrasah hanafiyah) dan Hanbali institute (madrasah Hanbaliah) seperti The shrine college of ibn al-abradi yang bertujuan mengembangkan ajaran-ajaran ahmad ibn hambal. Tetapi pada era berikutnya, seperti pada lembaga Dar El-ulum di Baghdad. Tujuan institusional madrasah tidak lagi bertumpu pada pengajaran satu madhab tetapi lebih universal yaitu semua mazhab dengan bentuk-bentuk kelas tertentu.
Al-ala menjelaskan bahwa tujuan institusional madrasah masih bersifat parsialis-terbatas pada madrasah tertentu saja belum menyeluruh, selain pada masing-masing jenjang pendidikan. Dengan demikian pada masa pendidikan Islam klasik tujuan institusional madrasah dikembangkan sesuai dengan misi utama yang diajarkan oleh para penyusunnya (ulama) yang mengajar di madrasahnya, namun, terkadang misi itu perlu penyesuaian dengan kepentingan dan aturan/kebijakan pemerintah.
2.      Tujuan Kurikuler Madrasah
Untuk mengetahui tujuan kurikuler dari pendidikan model madrasah pada masa klasik Islam, secara tersirat dapat dilihat dari bidang studi yang ditekuninya. Para sahabat Rasullah, misalnya, mempelajari al-qur'an bertujuan agar mereka hafal dan mengerti makna yang terkandung serta bertujuan untuk mengamalkan secara utuh. Untuk kepentingan itu mereka menghafalnya secara tekun dan cermat. Mereka yang berminat menekuni bidang fiqih bertujuan paling tidak agar mereka dapat melaksanakan ibadah dengan benar sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Dan sesuai dengan anjuran syariat Islam.
Pada generasi pasca sahabat, ketika pendidikan madrasah mulai dikenal kaum muslimin mempelajari berbagai bidang keilmuan dengan tujuan agar memahami ajaran Islam sesuai dengan bidang kajian masing-masing. Selain itu, pengetahuan dasar seperti membaca dan menulis merupakan kunci dalam mempelajari bidang-bidang keilmuan. Oleh karena itu, pengetahuan dasar diberikan kepada siapa saja sejak anak-anak.
Ahmad syalabi berpendapat bahwa salah satu tujuan para sahabat mempelajari hadits Nabi ialah agar mereka mengetahui persis akhlak Nabi. Sementara generasi berikutnya ilmu bahasa agar dapat menolong mereka memahami kandungan al-qur'an dan sabda-sabda nabi secara tepat. Menurut syalabi tujuan kurikuler dapat dilihat dari kecenderungan dan karakteristik ilmu yang ditekuninya, seperti belajar ilmu mantiq untuk menjaga dan memelihara pikiran agar bias berfikir maksimal dan logis. Tujuan mempelajari ilmu berhitung adalah untuk membiasakan diri berfikir analisis, sistematis dan kritis. Tujuan mempelajari ilmu kesehatan untuk memelihara dan mengetahui seluk beluk penyakit dan cara-cara menolong orang sakit.
Dari paparan diatas menunjukan bahwa pelajaran di madrasah sudah mempunyai tujuan-tujuan kurikuler tertentu untuk mencapai target lulusan yang diharapkan. Sejak masa klasik tujuan pendidikan Islam memang sudah disusun secara baik, walaupun belum dianggap sebagai hal yang sistematis.
3.      Tujuan Intruksional umum
Tujuan instruksional umum pendidikan digariskan dengan maksud agar mereka yang belajar di madrasah mengerti dan memahami kegunaan materi dari ilmu yang dipelajarinya. Misalnya, mempelajari ilmu mantiq agar mereka mengerti, mengetahui dan memahami cara berfikir yang baik dan benar. Tujuan mempelajari ilmu berhitung dan ilmu ukur adalah mengerti dan memahami cara menghitung yang benar dan baik. Tujuan mempelajari ilmu fiqih agar mengerti dan memahami hokum-hukum Islam baik yang berkenaan dengan ibadah maupun muamalah. Demikian pula mempelajari ilmu-ilmu lainya.
Tujuan instruksional umum pada masa pertumbuhan dan perkembangan madrasah pendidikan islam klasik lebih ditekankan pada aspek pengertian dan pengembangan pengetahuan, belum sampai pada tataran praktis. Karena itu materi yang diajarkan baru sampai pada pengembangan pengetahuan yang bersifat teoritis,
4.      Tujuan Intruksional Khusus
Tujuan ini dirumuskan pada kondisi yang bersifat aplikatif dan bersifat lebih rinci, yaitu murid tidak hanya dituntut mengerti dan memahami tetapi juga dapat menyebutkan, mengungkapkan secara benar dan mempraktekannya. Misalnya, pengajaran al-qur'an menuntut murid / mahasiswa dapat membacakan dengan benar, menyebutkan ayat-ayat tertentu yang berhubungan dengan materi pelajaran, dan dapat menunjukan ayat-ayat tertentu jika guru memintanya.
Contoh lain mempelajari berhitung dan ilmu ukur agar murid terbiasa menggunakan akal perasaan dan mengikuti cara-cara tertentu seperti menjumlahkan, mengalikan, membagikan angka-angka dan mengukur luas dan isi. Kemampuan seperti ini sangat berguna secara praktis dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri, yang kelak akan membantu mereka dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya, secara Instruksional bila mereka menguasai ilmu-ilmu itu mereka dapat memecahkan persoalan dalam pembagian harta waris. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas.
E.     Evaluasi Pendidikan Madrasah Pada masa Klasik.
Pada masa perkembanga pendidikan Islam klasik, untuk mengetahui berhsil atau tidak suatu kurikulum dan metode pengajaran yang diterapkan dalam system pendidikan dibutuhkan evaluasi pendidikan. Menurut Stanton dan Makdisi, evaluasi hasil belajar di madrasah sudah dilakukan pada masa madrasah Nizhamiyah, dan diikuti oleh madrasah-madrasah lainnya pada masa sesudahnya.
Bentuk evaluasi pendidikan madrasah pada masa itu sebagian besar dilakukan sendiri oleh guru bidang studi. Para guru bertanya pada muridnya, atau para murid diminta menghafal di depan kelas mengenai suatu materi. Evaluasi belum dilakukan secara teratur dan terjadwal karena keberhasilan seorang murid menguasai materi yang diajarkan sangat bergantung pada semangat belajar para siswa/ mahasiswanya sendiri,
Setelah pendidikan madrasah mulai berjenjang, evaluasi dilakukan setidaknya untuk menentukan tingkat kelayakan seorang dalam mempelajari ilmu-ilmu tertentu yang membutuhkan pengetahuan dasar dari ilmu-ilmu tersebut seperti pelajaran al-qur'an. Sebelum mempelajari tafsir al-qur'an, murid haru mengetahui lebih dahulu membaca menulis huruf dan ulumul qur'an.
Sepanjang sejarah pendidikan Islam klasik tidak ditemukan suatu catatan yang menjelaskan bahwa para pelajar diminta mempersiapkan diiri mengikuti ujian atau ulangan, ujian yang dilakukan pada saat itu adalah ujian dalam kelas yang dilakukan oleh para mudarris/syikh, atau teman-teman lainya dengan cara bertukar pikiran, berdebat dan berdiskusi. Namun demikian ujian tidak dilakukan secara terstruktur. Siswa/mahasiswa hanya mendapatkan ijazah atau surat keterangan sebagai bukti bahwa mereka telah lulus atau pernah belajar di lembaga tersebut. Surat keterangan itu berisi pernyataan tertentu dibawah bimbingan ustad/mudarris/syaikh tertentu, mengikuti ujian tertentu dan tanda tangan ketua lembaga pendidikan. Pemberian izazah tersebut hanya sebatas menunjukan kemampuan dan kesungguhan seoran pelajar dalam mempelajari ilmu-ilmu tertentu tanpa disebutkan alamat lembaga tempat mereka belajar dan tidak mendapat gelar seperti pada lembaga pendidikan modern.

Kesimpulan.
Pendidikan semenjak pasca Rasul SAW mengalami evolusi dari halaqoh, kuttab sampai kemudian Madrasah, madrasah pada zaman klasik Islam mengalami perubahan yang signifikan dan dapat ditinjau dari beberapa aspek perubahan baik dari lembaganya  proses pembelajaran, tujuan pengajaran, evaluasi pendidikan. Menuju madrasah modern sampai saat ini.

























DAFTAR PUSTAKA

Mehdi Nakosteen, Konstribusi Islam atas Dunia intelektual Barat : Deskripsi analisis Abad keemasan Islam : Edisi Indonesia (Surabaya Risalah Gusti; 1996) – al-Yusu'i

Abu Luwis al-Yasu'I, al-Munjid fi al-Lughah wa al-Munjid Fi al-A'lam Cet-23, Dar-masriq, Beirut,

[1]H.A. Malik fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam (Jakarta : LP3NI, 1998)
           
Zuhairini, dkk, Sejarah pendidikan Islam, Bumi Aksara , ed.1 cet.9, Jakarta; bumi aksara 2008

Departemen agama, sejarah Madarasah pertumbuhan dan perkembangan di Indomnesia, 2004
Mehdi Nakosteen, Konstribusi Islam atas Dunia intelektual Barat : Deskripsi analisis Abad keemasan Islam : Edisi Indonesia (Surabaya Risalah Gusti; 1996) ,hlm 66 – al-Yusu'i
Abu Luwis al-Yasu'I, al-Munjid fi al-Lughah wa al-Munjid Fi al-A'lam Cet-23, Dar-masriq, Beirut, tt hlm.221
H.A. Malik fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam (Jakarta : LP3NI, 1998) h.III
Hasai Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam al-Siyasi wa al-Dini Wa al-Ijtimai ) Juz 4 cet IV (Mesir, Maktabah al- Nahdlah, 1967 hlm, 425.
Richard W Buliets, The patricians oa Nishapur (Cambridge; Mass Harvard University Press 1972) hlm 174.
Naji Maruf, Madaris makkah (Bagdad : al-Irsayad, 1966) hlm 9


 M'F JIKA ANDA KESULITAN MENDAPATKAN FILE INI ANDA BISA DOWNLOAD DI SINI

0 komentar:

Poskan Komentar

MEZA
Bagi sobat yang berkunjung di blogger ini tolong tinggalkan komennya y.......
supaya bisa membagun atau menambah supaya blogger ini lebih baik dari sebelumnya.
MAKASIH

adf.ly

http://adf.ly/?id=1499578